Menempa Perawat Berkarakter Berlian ke Panggung Global
- 22 Jun 2026 19:18 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Di bawah kepemimpinan Dr. Ratna Hidayati, M.Kep., Sp.Mat., STIKES Karya Husada Kediri tumbuh dari Akademi Keperawatan, menjadi sekolah tinggi yang meluluskan tenaga kesehatan berdaya saing secara internasional. Kurikulum berbasis kompetensi, fasilitas skill station yang mereplikasi kondisi klinis nyata, dan pembentukan karakter lewat prinsip "berlian" keras, berharga, tahan uji, menjadi tiga pilar yang dijaga konsisten dari generasi ke generasi.
"Apa yang kita lakukan berorientasi pada dampak bagi masyarakat? Penelitian kita di bidang kesehatan, juga dirancang untuk membantu mengatasi masalah kesehatan di masyarakat," ujar Dr. Ratna Hidayati, Ketua STIKES Karya Husada Kediri, dalam podcast SEVIMA, Senin, 22 Juni 2026.
Jejak alumni di luar negeri pun sudah dimulai sejak era Akademi, jauh sebelum rekrutmen tenaga kesehatan internasional menjadi tren. Sebagian alumni disebar melalui program Government to Government (G2G), skema penempatan kerja luar negeri resmi, yang dikelola pemerintah Indonesia melalui BP2MI.
Program itu menjamin proses rekrutmen yang aman, transparan, dan berbiaya terjangkau. Sekaligus menjadi bukti kompetensi lulusan kampus itu diakui di level antarnegara.
Komitmen terhadap mutu pendidikan itu berbuah hasil yang terukur. Pada periode Agustus 2025, seluruh mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan, yang mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Kesehatan (UKOM), dinyatakan lulus 100 persen tanpa terkecuali.
Angka itu lahir dari cara kampus mendidik sejak hari pertama. Kurikulum dirancang berbasis kompetensi, bukan sekadar transfer pengetahuan. Skill station menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi situasi klinis nyata, sebelum mereka benar-benar terjun ke lapangan. Dan di atas segalanya, karakter berlian ditanamkan sejak dini: keras dalam proses, berharga dalam hasil, tahan uji dalam tekanan.
Tekanan itu pun datang pada waktunya. Saat UKOM Agustus 2025 berlangsung, mahasiswa semester 5 dan 6 tidak duduk di bangku kelas, mereka berdinas di rumah sakit dan puskesmas, menjalani praktik klinik dengan tanggung jawab penuh. Mempersiapkan ujian kompetensi nasional di tengah shift klinis bukan hal mudah. Namun, fondasi yang dibangun kampus selama bertahun-tahun, membuat mereka siap menghadapi keduanya sekaligus.
Di balik konsistensi menjaga kualitas, terdapat fondasi data yang dibangun dengan serius, oleh STIKES Karya Husada Kediri. Kampus itu fokus membangun infrastruktur yang terintegrasi, yang mencakup berbagai aspek, mulai dari mahasiswa mendaftar, hingga pelaksanaan Tridharma.
"Dengan adanya transformasi digital yang terintegrasi, kita bisa menarik data secara tren, sehingga tidak perlu mengumpulkan secara manual lagi. Sinkronisasi dengan PDDikti juga memperlancar verifikasi data oleh asesor LAM PTKes, sehingga memudahkan kita dalam persiapan akreditasi," kata Dr. Ratna, yang juga berpengalaman sebagai asesor LAM PTKes.
Ekosistem itu membebaskan tim akademik dari beban administratif, agar dapat fokus penuh pada mutu lulusan. Ke depan, STIKES Husada Kediri menargetkan digitalisasi menyeluruh, mencakup seluruh aspek Tridharma, demi mempertahankan akreditasi Unggul.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....