Pelatihan Pembuatan Tempe, Ibu-Ibu PCA Gunungpati 1 Didorong Berwirausaha

  • 08 Jun 2026 21:12 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ibu-ibu Pimpinan Cabang Aisyiah (PCA) Gunungpati 1 didorong untuk mengembangkan usaha berbasis pangan melalui pelatihan pembuatan tempe yang digelar tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dorongan untuk wirausaha itu disampaikan Ketua Pimpinan Daerah (PD) Aisyiah Kota Semarang Aminah Kurniasih SPd MPd saat pelatihan pembuatan tempe di Wisma Lansia Husnul Khatimah Gunungpati, Minggu, 7 Juni 2026.

"Kami mengapresiasi pelatihan pembuatan dan pengemasan tempe inovasi yang difortifikasi dengan tepung bawang putih dan tepung kelor yang diselenggarakan tim Unnes. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang usaha untuk meningkatkan perekonomian rumah tangga," kata Ketua PD Aisyiyah Kota Semarang, Aminah Kurniasih SPd MPd.

Menurut dia, tempe itu makanan rakyat yang setiap harinya dikonsumsi masyarakat, sehingga bisa jadi peluang bisnis. Dari pengetahuan ini, setidaknya peserta juga bisa menambah ilmu bagaimana cara pembuatan tempe, makanan bergizi yang banyak disukai masyarakat tersebut.

Ia menambahkan, setiap cabang Aisyiyah memiliki produk unggulan yang berbeda sebagai bentuk pengembangan ekonomi keluarga. Beberapa di antaranya mengembangkan olahan seperti bandeng tanpa duri maupun gudeg, sesuai potensi wilayah masing-masing.

Ke depan, program pelatihan pembuatan tempe ini diharapkan dapat diperluas ke cabang-cabang Aisyiyah lainnya di Kota Semarang. "Kami membawahi 18 cabang, program ini akan dikembangkan agar semakin banyak ibu-ibu yang memiliki keterampilan dan peluang usaha di bidang pangan," ujarnya, dengan harapan dari Harnina bahwa PDA Kota Semarang dapat memiliki UMKM Tempe.

Menurut Aminah, pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pengolahan pangan merupakan bagian dari program kerja Majelis Ekonomi Aisyiyah yang sejalan dengan program ketahanan pangan dan kesehatan keluarga. "Kami selalu mendukung kegiatan cabang yang berkaitan dengan ketahanan pangan, kesehatan keluarga, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat," katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian Unnes Prof Dr Siti Harnina Bintari menjelaskan, pelatihan tidak berhenti pada proses pembuatan tempe, tetapi juga mencakup pengemasan, pendampingan, hingga pemasaran produk."Ibu-ibu dilatih membuat dan mengemas tempe, selanjutnya dilakukan pengamatan selama 48 jam untuk memastikan proses fermentasi berjalan baik hingga produk siap dimasak," jelasnya.

Harnina menuturkan, program pengabdian masyarakat ini memiliki dua tujuan utama, yakni meningkatkan kualitas konsumsi pangan keluarga dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Harapannya inovasi ini dapat diterapkan di keluarga masing-masing, dipromosikan melalui kegiatan PKK, dan dipasarkan dalam skala kecil terlebih dahulu.

"Program inovasi tempe yang sebelumnya berorientasi di laboratorium kini kami implementasikan langsung kepada masyarakat," katanya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian edukasi, sosialisasi, implementasi inovasi, serta pendampingan pemasaran produk tempe agar memiliki nilai tambah ekonomi.

Melalui pelatihan pembuatan tempe, pihaknya berharap akan mampu mencetak lebih banyak pelaku usaha rumahan. Mereka tidak hanya menghasilkan pangan bergizi bagi keluarga, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Pelatihan dikemas secara serius tapi santai, peserta tampak asyik mengikuti praktik membungkus tempe yang terbagi tiga yaitu original, bawang putih dan kelor. Guna menambah motivasi peserta, panitia memberikan hadiah kejutan dalam pelatihan tersebut.

Peserta yang mampu membungkus tempe secara rapi dan banyak, mendapatkan hadiah. Adapun, tim juri melibatkan anggota tim pengabdian seperti Prof Dr Wiwi Isnaeni, Dr Eko Farida MSi, dan Dra Ely Rudyatmi M.Si.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....