Generasi Muda Jadi Penggerak Utama Bisnis Biomassa Nasional
- 01 Jun 2026 21:01 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengungkap dominasi anak muda dalam ekosistem bioenergi nasional. Sekitar 60 persen dari 180 kontrak aktif biomassa dijalankan pelaku usaha milenial dan Generasi Z.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan keterlibatan generasi muda terus meningkat. Kondisi itu sejalan dengan pengembangan rantai pasok biomassa untuk kebutuhan cofiring PLTU.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Series Dies Natalis ke-28 Institut Teknologi PLN. Menurut Hokkop, banyak anak muda mulai terjun ke sektor bioenergi.
“Dari 180 perusahaan itu, 60 persennya milenial dan Gen Z. Mereka bikin pelet, kumpulin cangkang, bahkan ada yang ekspor,” ujarnya. Senin, 1 Juni 2026.
Selama tiga tahun terakhir, PLN EPI telah mengadakan biomassa hingga 2,5 juta ton. Pengadaan itu dilakukan melalui 180 kontrak aktif di berbagai daerah.
“Kalau batu bara, 2,5 juta ton itu biasanya cukup satu kontrak saja. Tapi biomassa ini melibatkan 180 perusahaan. Artinya ekonomi rakyat bergerak,” katanya.
Hokkop menjelaskan bisnis biomassa kini berkembang menyerupai ekosistem startup. PLN EPI membangun rantai pasok berbasis main hub dan subhub.
Sistem tersebut mengintegrasikan pengumpulan limbah, pengolahan, pengeringan, dan pengujian kualitas. Seluruh proses dilakukan sebelum biomassa dikirim ke pembangkit listrik.
PLN EPI juga mengembangkan platform digital biomassa berbasis marketplace di Adipala. Aplikasi itu memungkinkan masyarakat menjual biomassa melalui telepon seluler.
“Nanti tinggal foto kayunya, sistem akan estimasi jenis, kadar kalori, jarak, sampai harga dengan AI. Setelah itu bisa langsung dijual dan diambil,” kata Hokkop.
Ia menilai pengembangan bioenergi membuka peluang kerja baru di daerah. PLN EPI juga membuka kesempatan bagi talenta digital mengembangkan sistem rantai pasok biomassa.
Saat ini PLN EPI telah membangun fasilitas produksi biomassa di Tasikmalaya. Perusahaan juga menyiapkan fasilitas baru di Kijing, Dumai, Lebak, Lamongan, dan Belawan.
Dalam empat tahun mendatang, PLN EPI menargetkan pembangunan 22 fasilitas biomassa. Langkah itu untuk memperkuat pasokan biomassa nasional.
PLN EPI memperkirakan nilai ekonomi biomassa terus meningkat. Implementasi cofiring 10 juta ton diproyeksikan bernilai sekitar Rp11 triliun.
“Baru 2,5 juta ton saja nilainya sudah hampir Rp3 triliun. Kalau 10 juta ton, potensi ekonominya Rp11 triliun,” ujar Hokkop.
Program biomassa juga diperkirakan menyumbang penerimaan negara. Potensi pajak yang dihasilkan mencapai sekitar Rp1,25 triliun.
Dalam kesempatan sama, Wakil Rektor III ITPLN, Purnomo, menyoroti tantangan sektor energi nasional. Menurutnya, Indonesia masih menghadapi trilema energi.
Trilema tersebut mencakup keamanan pasokan, pemerataan akses, dan keberlanjutan lingkungan. Ketiga aspek itu harus berjalan seimbang.
“Rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai sekitar 99 persen. Namun masih ada tantangan mencapai 100 persen masyarakat menikmati listrik,” katanya.
Purnomo menambahkan wilayah terpencil membutuhkan investasi elektrifikasi yang besar. Karena itu, pemerataan akses listrik masih menjadi pekerjaan rumah nasional.
Di sisi lain, Indonesia juga harus memenuhi komitmen penurunan emisi karbon. Target tersebut sejalan dengan Paris Agreement dan sasaran net zero emission 2060.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....