Tantangan Pendidikan Nasional, dari Ketimpangan Geografis hingga Akses Inklusif

  • 04 Mei 2026 12:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Upaya mewujudkan pendidikan yang bermutu dan merata di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari ketimpangan geografis hingga akses pendidikan inklusif menjadi isu utama yang perlu segera diatasi.

Pengamat pendidikan sekaligus akademisi Universitas Negeri Semarang, Yuliati, menyampaikan luasnya wilayah Indonesia menjadi salah satu hambatan pemerataan pendidikan. Kondisi tersebut berdampak pada kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah.

“Ketimpangan geografis ini membuat kualitas pendidikan di Indonesia sangat beragam. Namun, saat ini kita sedang bergerak menuju perbaikan,” ujarnya dalam wawancara bersama Pro 1 RRI Semarang, Jumat, 1 Mei 2026.

Ia menjelaskan, daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas dasar. Mulai dari transportasi, jaringan internet, hingga distribusi tenaga pendidik yang belum merata.

Menurutnya, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan. Program seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), serta Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah strategis dalam mendukung pemerataan.

Program tersebut dinilai penting untuk memastikan pendanaan pendidikan tersalurkan secara tepat sasaran. Baik dari sisi peningkatan akses maupun kualitas pembelajaran.

Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan semakin terlihat saat pandemi COVID-19. Pembelajaran jarak jauh yang bergantung pada teknologi memperlihatkan belum meratanya akses digital di Indonesia.

Untuk mengatasi persoalan di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), diperlukan berbagai solusi. Di antaranya pemberian insentif bagi guru, program rotasi pengabdian, kolaborasi lintas sektor, serta pemerataan akses teknologi berbasis data.

Selain itu, Yuliati juga menyoroti pentingnya pendidikan inklusif. Saat ini, hampir seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) diwajibkan memiliki unit layanan disabilitas guna mendukung mahasiswa berkebutuhan khusus.

Di sisi lain, program beasiswa terus diperkuat sebagai upaya memutus kesenjangan ekonomi dalam pendidikan dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat. “Harapannya, baik mereka yang berasal dari keluarga mampu maupun kurang mampu, tetap memiliki akses dan kualitas pendidikan yang sama,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....