Peneliti Ungkap Bahaya 3.100 Lonjakan Gletser
- 18 Apr 2026 01:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Analisis global menemukan lebih dari 3.100 gletser yang mengalami lonjakan perilaku tidak menentu akibat dampak negatif dari pemanasan iklim.
- Tim ilmuwan internasional mengidentifikasi 81 gletser yang memberikan ancaman bencana paling besar bagi warga di wilayah Pegunungan Karakoram.
- Perubahan kondisi iklim memaksa para ahli untuk meningkatkan kapasitas pemantauan satelit serta penggunaan model komputer untuk mitigasi risiko.
RRI.CO.ID, Portsmouth - Riset terbaru University of Portsmouth menemukan bahwa perilaku 3.100 gletser berubah sangat drastis akibat pemanasan suhu bumi. Data terbaru mengidentifikasi sebanyak 81 gletser memiliki risiko bahaya paling tinggi saat terjadi fenomena lonjakan es.
Fenomena gletser tersebut terkonsentrasi pada wilayah Kutub Utara serta dataran tinggi Benua Asia hingga kawasan Pegunungan Andes. Kenaikan suhu dunia mengakibatkan perilaku massa es pada wilayah tersebut menjadi sangat sulit untuk segera kita prediksi.
“Gletser tipe lonjakan sangat tidak biasa dan dapat merepotkan,” kata Dosen senior bidang glasiologi Harold Lovell, Kamis, 12 Februari 2026.
“Mereka menyimpan es seperti rekening tabungan dan kemudian menghabiskannya dengan sangat cepat seperti acara Black Friday,” kata peneliti dari University of Portsmouth.
Fenomena alam unik ini mewakili hampir satu per lima luas wilayah dari keseluruhan tutupan es di seluruh dunia. Sebagian besar lokasi tersebut berada pada Pegunungan Karakoram karena letaknya cukup berdekatan dengan kawasan padat penduduk lokal.
Pegunungan Karakoram bermula di Koridor Wakhan di Afghanistan barat dan membentang ke timur. Bentangannya mencapai Ladakh yang dikelola India dan Aksai Chin yang dikelola Tiongkok, serta Provinsi Xinjiang di Tiongkok.
“Meskipun mereka hanya mewakili satu persen gletser di seluruh dunia, perilaku tersebut dapat berujung bencana alam fatal,” ujarnya.
Para ahli menemukan fakta bahwa kejadian cuaca ekstrem memicu lonjakan gletser menjadi lebih awal dari jadwal perkiraan. Curah hujan yang sangat tinggi mengakibatkan ketidakpastian besar bagi keselamatan jiwa pada komunitas pemukiman di pegunungan tinggi.
“Penelitian ini sangat penting karena membantu memantau kawasan tertentu guna melindungi komunitas masyarakat yang paling berisiko tinggi,” ucapnya.
Profesor Gwenn Flowers dari Simon Fraser University (SFU) menambahkan rincian baru terkait mekanisme perubahan pola gletser saat ini. Fenomena penyusutan es menyebabkan beberapa titik wilayah di Islandia sudah mulai kehilangan kemampuan alami untuk kembali melonjak.
“Tantangannya adalah saat kita mulai memahami mekanismenya, justru perubahan iklim sedang menulis ulang aturan yang ada,” ujar Gwenn Flowers.
Hasil studi yang mendalam menekankan pentingnya pengawasan melalui sistem satelit secara berkelanjutan pada daerah lereng yang curam. Pemodelan komputer canggih akan membantu proses mitigasi risiko bagi komunitas masyarakat yang rentan terhadap terjangan bencana alam.
“Ketidakpastian yang meningkat ini berarti kita membutuhkan kemampuan pengawasan dan kemampuan perkiraan cuaca yang jauh lebih baik,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....