Lembayung Merah di Ufuk Barat
- 17 Apr 2026 19:58 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: Menjadi tua adalah kepastian, namun menua dengan bahagia adalah pilihan. Pesan kuat inilah yang menjadi napas utama dalam buku Lembayung Merah di Ufuk Barat karya psikolog dan penulis kenamaan, E.B. Surbakti. Melalui untaian kata yang reflektif, Surbakti mengajak pembaca menatap fase lansia bukan sebagai akhir yang kelam, melainkan sebagai "lembayung" yang indah sebelum matahari benar-benar terbenam. Dalam laporannya, Surbakti menyoroti fenomena psikologis yang kerap menghantui individu saat memasuki usia di atas 60 tahun. Seringkali, masyarakat (bahkan para lansia itu sendiri) memandang masa tua sebagai periode kemunduran, kesepian, dan ketidakberdayaan.
Namun, buku yang terbit pada Desember 2012 oleh penerbit Praninta Aksara ini, mendobrak stigma tersebut. Surbakti menekankan bahwa kualitas hidup di masa tua sangat bergantung pada persiapan mental dan spiritual yang dilakukan jauh sebelum masa itu tiba. Ia menggunakan metafora "Lembayung Merah" untuk menggambarkan bahwa ufuk barat kehidupan bisa memberikan warna yang paling mempesona jika dikelola dengan bijak.
Tiga Pilar Menuju Lansia Bahagia
Berdasarkan analisis Surbakti, terdapat tiga poin krusial yang harus diperhatikan untuk mencapai kesejahteraan di masa tua:
- Penerimaan Diri (Acceptance): Menghargai perubahan fisik dan penurunan fungsi tubuh tanpa rasa benci. Surbakti menekankan pentingnya berdamai dengan masa lalu agar tidak ada beban emosional yang tersisa.
- Kesehatan Holistik: Bukan sekadar bebas penyakit, tetapi menjaga keseimbangan antara pola makan, aktivitas fisik ringan, dan stimulasi kognitif agar otak tetap tajam.
- Relasi Sosial dan Spiritual: Kesepian adalah "pembunuh" utama di masa tua. Penulis menyarankan penguatan ikatan keluarga dan peningkatan kedekatan dengan Sang Pencipta sebagai jangkar emosional.
"Empty Nest Syndrome" dan Solusinya
Salah satu isu menarik yang diangkat dalam karya ini adalah Empty Nest Syndrome- perasaan sedih dan kesepian ketika anak-anak mulai meninggalkan rumah. Surbakti memberikan panduan praktis bagi orang tua untuk menemukan kembali eksistensi dirinya di luar peran sebagai pengasuh anak.
"Masa tua bukanlah waktu untuk berhenti berkarya, melainkan waktu untuk mengubah bentuk pengabdian. Jika dulu kita bekerja untuk ambisi, kini saatnya berbagi hikmat bagi generasi penerus." — E.B. Surbakti
Kesimpulan: Warisan untuk Generasi Muda
Meski buku ini ditujukan bagi mereka yang berada di ambang usia senja, Lembayung Merah di Ufuk Barat sejatinya adalah manual kehidupan bagi kaum muda. Surbakti mengingatkan bahwa cara kita memperlakukan waktu sekarang akan menentukan seberapa merah "lembayung" kita di ufuk barat nanti.
Buku ini bukan sekadar teori psikologi, melainkan sebuah panduan praktis yang hangat, mengingatkan kita semua bahwa setiap fase kehidupan memiliki keindahannya sendiri, asalkan kita tahu cara mensyukurinya. ( Sumber: Buku kita.com).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....