Celah yang Sering Dimanfaatkan Hacker untuk Masuk ke Sistem
- 25 Mar 2026 14:26 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Hacker sering mengeksploitasi kombinasi kelemahan manusia dan celah teknis dalam sistem untuk mendapatkan akses tidak sah ke data atau jaringan. Dikutip dari IBM, serangan ini tidak selalu bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kelengahan pengguna dan kesalahan konfigurasi yang tampak sepele.
Salah satu celah teknis yang paling umum adalah SQL Injection, yaitu teknik di mana penyerang memasukkan kode berbahaya ke dalam formulir input aplikasi web untuk mengakses atau memanipulasi database. Kerentanan ini termasuk dalam daftar OWASP Top 10, yang mengidentifikasi risiko keamanan aplikasi web paling kritis di dunia.
Selain itu, Cross-Site Scripting (XSS) juga sering dimanfaatkan untuk menyuntikkan skrip berbahaya ke dalam situs web. Skrip ini kemudian dijalankan di browser pengguna lain, yang memungkinkan penyerang mencuri cookie, sesi login, atau informasi sensitif lainnya.
Kerentanan zero-day menjadi ancaman serius karena belum diketahui oleh vendor sehingga belum tersedia perbaikannya. Contoh nyata adalah serangan WannaCry yang memanfaatkan celah pada protokol SMB di sistem Windows sebelum patch keamanan dirilis secara luas.
Jenis celah lain yang berbahaya adalah Remote Code Execution (RCE), yang memungkinkan penyerang menjalankan kode dari jarak jauh pada sistem target. Salah satu contoh kasusnya adalah celah “Double Kill” (CVE-2018-8174) yang menyerang pengguna melalui browser lawas seperti Internet Explorer.
Di sisi lain, kesalahan konfigurasi keamanan juga menjadi pintu masuk yang sering diabaikan, seperti penggunaan kata sandi default, port terbuka, atau pemberian hak akses berlebihan. Kesalahan ini sering kali terjadi bukan karena teknologi yang lemah, melainkan kurangnya pengelolaan sistem yang baik (CyberHub Indonesia, 2023).
Selain faktor teknis, manusia menjadi target utama melalui teknik rekayasa sosial atau social engineering. Dalam metode ini, penyerang memanipulasi psikologi korban agar secara sukarela memberikan informasi rahasia atau melakukan tindakan tertentu yang menguntungkan pelaku.
Salah satu bentuk paling umum adalah phishing, di mana penyerang menyamar sebagai pihak tepercaya melalui email atau pesan palsu untuk mencuri kredensial login. Ditambah dengan kebiasaan menggunakan kata sandi yang lemah atau sama di banyak akun, risiko kebocoran data menjadi semakin tinggi.
Secara keseluruhan, sebagian besar insiden keamanan siber sebenarnya dapat dicegah dengan langkah sederhana seperti pembaruan sistem secara rutin dan peningkatan kesadaran pengguna. Studi menunjukkan bahwa hingga 95% pelanggaran keamanan melibatkan faktor manusia, sehingga edukasi dan kewaspadaan menjadi kunci utama dalam perlindungan digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....