Ragam Makanan Khas Lebaran dari Berbagai Daerah di Indonesia
- 09 Mar 2026 20:39 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga pesta kuliner yang merepresentasikan kekayaan budaya tiap daerah. Jika ketupat dan opor ayam menjadi hidangan yang paling umum dijumpai di Pulau Jawa, wilayah lain di nusantara memiliki sajian khas yang tak kalah menggugah selera. Keberagaman menu ini menunjukkan bagaimana nilai keagamaan berpadu harmonis dengan tradisi lokal di setiap penjuru negeri.
Di wilayah Sumatera Utara, khususnya di kalangan masyarakat Medan, hidangan Lontong Sayur Medan menjadi primadona saat Lebaran. Berbeda dengan lontong pada umumnya, sajian ini memiliki keunikan pada campuran sayur gurih, tauco, sambal teri kacang, hingga bumbu rendang yang kaya rempah. Mengutip kajian dari UNESCO dalam Culture and Food Traditions, ragam kuliner lokal seperti ini merupakan bagian dari warisan budaya tak benda yang memperkuat identitas dan kohesi sosial masyarakat saat merayakan hari besar.
Bergeser ke arah timur, masyarakat Sulawesi Selatan memiliki tradisi menyajikan Burasa dan Coto Makassar sebagai pengganti ketupat. Burasa, yang terbuat dari beras yang dimasak dengan santan lalu dibungkus daun pisang, memberikan cita rasa gurih yang khas untuk mendampingi kuah kental Coto yang kaya akan bumbu rempah tradisional. Kekayaan rasa ini adalah bukti nyata dari pemanfaatan komoditas lokal yang diolah secara turun-temurun sebagai bentuk syukur atas kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Di daerah Maluku dan Papua, keceriaan Lebaran sering kali dirayakan dengan kehadiran Papeda yang disandingkan dengan Ikan Kuah Kuning. Meski Papeda merupakan makanan pokok sehari-hari, pada momen hari raya, penyajiannya dilakukan secara lebih meriah bersama keluarga besar. Merujuk pada laporan Food and Agriculture Organization (FAO) mengenai Indigenous Food Systems, penggunaan bahan pangan lokal seperti sagu merupakan bentuk ketahanan pangan berbasis kearifan lokal yang tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Tak ketinggalan, dari bumi Serambi Mekkah, Aceh, terdapat sajian Ayam Tangkap dan Sie Reuboh yang menjadi hidangan wajib bagi banyak keluarga. Aroma daun teuraki dan pandan yang digoreng bersama ayam memberikan sensasi harum yang membangkitkan selera. Keragaman teknik memasak ini memperlihatkan bahwa setiap daerah memiliki cara unik dalam mengekspresikan kegembiraan, menjadikan meja makan sebagai ruang dialog antarbudaya yang paling jujur.
Fenomena "mudik kuliner" di dalam rumah sendiri ini juga memberikan dampak positif bagi para perajin bumbu tradisional dan peternak lokal. Peningkatan permintaan bahan baku makanan khas daerah selama Idul Fitri menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput. Dengan melestarikan menu-menu tradisional, masyarakat secara tidak langsung turut menjaga keberlangsungan ekosistem kuliner nusantara yang sangat berharga.
Menikmati ragam hidangan khas Lebaran adalah cara kita merayakan Indonesia dalam satu piring. Di balik setiap suapan rendang, opor, atau coto, terdapat doa dan harapan untuk kedamaian serta kebersamaan. Semoga kehangatan di meja makan ini dapat terus mempererat tali persaudaraan antarwarga, melintasi batas-batas geografis dan perbedaan tradisi yang ada.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....