Nur Azmi Alwi: Membaca Mestinya Mengasah Daya Kritis
- 09 Jun 2026 12:36 WIB
- Bukittinggi
RRi.CO ID,Bukittinggi — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Sekolah Dasar (SD) 2026 yang menunjukkan jurang pemisah lebar antara kemampuan membaca dan matematika mendapat sorotan tajam. Ketimpangan ini dinilai menjadi alarm darurat yang menandakan ada masalah mendasar dalam pola asuh intelektual anak di sekolah.
Dosen Departemen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Nur Azmi Alwi, mengungkapkan bahwa rata-rata nilai Bahasa Indonesia yang mencapai angka 60 berbanding terbalik dengan nilai Matematika yang tertahan di angka 40-43. Menurut pakar Pengajaran Sastra Anak ini, angka-angka tersebut berbicara jujur tentang kondisi psikologis belajar anak saat ini.

"Anak-anak kita secara umum memang terbiasa membaca atau menjawab pertanyaan yang sifatnya hafalan. Namun, mereka sangat lemah dan gagap ketika dihadapkan pada soal logika, pemecahan masalah, dan penalaran kritis," ujar Nur Azmi usai peluncuran tiga buku barunya di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, akhir pekan lalu (6/6/2026).
Sentuhan Sastra dan Kegagalan Logika
Sebagai akademisi yang menggeluti penelitian dan dunia sastra anak, Nur Azmi menegaskan bahwa aktivitas membaca seharusnya menjadi pintu masuk utama untuk mengasah rasa dan daya kritis anak. Melalui teks, imajinasi dan nalar logis anak mestinya distimulasi secara simultan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya miskonsepsi dalam pengajaran, di mana membaca baru sebatas mengeja dan menghafal informasi permukaan, bukan mengunyah substansi makna.
Melihat hasil TKA tersebut, ia mendesak para pemangku kebijakan dan pendidik untuk segera merombak kebiasaan belajar di kelas. Guru diharapkan tidak lagi sekadar mengejar target pemenuhan kurikulum formal yang kaku.
"Anak-anak di jenjang SD perlu dibiasakan dengan soal-soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Hal ini penting agar kemampuan bernalar mereka tumbuh sejak dini melalui bacaan dan stimulasi yang tepat," jelasnya di sela-sela Seminar Internasional Guru bertajuk Peluang dan Tantangan Guru di Era AI.
Rapuhnya Fondasi Akademik Siswa
Lebih jauh, Nur Azmi memperingatkan bahwa skor rata-rata Matematika siswa yang hanya berkisar pada angka 40-an merupakan indikator bahaya. Angka itu menandakan adanya fondasi logis anak yang terlewat dan rapuh sejak dari akar.
Menurutnya, jika pemahaman dasar berhitung serta logika matematika tidak diperkuat sejak dini di bangku SD, anak-anak akan mengalami benturan mental dan kesulitan besar saat menghadapi kurikulum SMP dan SMA yang jauh lebih kompleks.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah menjadikan data TKA ini bukan sekadar alat validasi nilai rapor atau seleksi prestasi. "Pemerintah harus menjadikan skor ini sebagai tolok ukur evaluasi mandiri sekolah, sekaligus peta jalan bagi kementerian untuk memperbaiki kualitas pengajaran secara merata di seluruh daerah," pungkas Nur Azmi yang hadir didampingi suaminya Dr.Irwandi yang juga moderator pada seminar internasional itu. Turut hadir pada peluncuran buku itu Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen RI, Hafidz Muksin. []
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....