Pasar Energi Membaik, Peneliti Ingatkan Investor Harus Tetap Waspada
- 08 Apr 2026 22:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Azhar Syahida menilai pasar energi mulai pulih, ditandai penurunan harga minyak dan membaiknya indeks saham global.
- Meski ada sentimen positif, pasar masih bersikap “wait and see” karena konflik AS, Iran, dan Israel berpotensi mengganggu pasokan energi.
- Ayub Mirdad menilai gencatan senjata bersifat sementara dan belum menjamin stabilitas, sehingga pasar tetap berisiko fluktuatif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pasar energi global mulai menunjukkan respons positif menyusul pembukaan sementara jalur distribusi minyak di kawasan Timur Tengah. Namun, pelaku pasar dinilai masih bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian geopolitik.
Peneliti CORE Indonesia, Azhar Syahida mengatakan sejumlah indikator pasar, termasuk indeks saham, mulai membaik. Kabar baik ini seiring turunnya harga minyak dunia ke bawah 100 dolar AS per barel.
"Ini menjadi angin segar bagi investor global. Ada optimisme bahwa dalam beberapa pekan ke depan kondisi bisa membaik," ucapnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 8 April 2026.
Meski demikian, ia menilai pasar masih cenderung “wait and see.” Hal ini karena konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel berpotensi besar mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Menurutnya, kawasan Timur Tengah memegang peran strategis dalam distribusi energi dunia. Sebagian besar pasokan minyak dari kawasan tersebut dialirkan ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
"Dari sisi ekonomi global tentu ini akan sangat berdampak dari sisi pasar energi. Sebesar 80 persen minyak yang ada di negara-negara tropis itu dikirim ke negara-negara Asia," katanya.
Pengamat HI UNAIR, Ayub Mirdad menilai gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran belum menjamin stabilitas jangka panjang. Ia menegaskan, kondisi tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Ia menjelaskan, berdasarkan rekam jejak konflik, gencatan senjata sementara berpotensi hanya menjadi jeda sebelum eskalasi lanjutan. Hal ini dipicu belum adanya kesepakatan atas sejumlah kepentingan utama kedua negara.
"Khawatirnya akan gencatan senjata ini tidak akan sustain lama. Bisa terjadi, bisa mulai lagi perang." ujarnya menegaskan.
Dengan kondisi tersebut, pasar energi global diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif. Stabilitas jangka panjang sangat bergantung pada perkembangan negosiasi dan dinamika politik di kawasan Timur Tengah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....