Indonesia Pimpin Pertemuan Menteri G-33, Perkuat Agenda Reformasi Pertanian Dunia

  • 10 Mar 2026 14:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memimpin pertemuan virtual menteri negara G-33 pada hari Senin, 9 Maret 2026. Dalam kesempatan itu, Indonesia mendorong Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) segera menghidupkan kembali perundingan sektor pertanian yang lama stagnan.

Negara berkembang mendesak adanya reformasi yang lebih berpihak pada nasib petani kecil secara global. Ketegasan ini muncul menjelang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri ke-14 di Kamerun akhir Maret nanti.

“KTM ke-14 WTO harus dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali perundingan pertanian WTO yang dalam beberapa tahun terakhir stagnan. Indonesia selaku koordinator G-33 mengimbau agar reformasi pertanian WTO tetap berorientasi pada pembangunan,” kata Budi di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.

Pemerintah Indonesia menyoroti lambatnya kemajuan dalam pembahasan cadangan pangan untuk kepentingan perlindungan nasional. Sistem perdagangan internasional saat ini, lanjutnya, dinilai kurang memberikan ruang bagi agenda pembangunan negara berkembang.

Menurutnya, aliansi 47 negara dalam G-33 berupaya menyatukan posisi guna memperkuat daya tawar secara kolektif. Kelompok ini menuntut keadilan akses pasar serta perlindungan dari lonjakan impor barang pangan asing.

“Indonesia akan terus mendorong pendekatan yang tegas namun konstruktif agar kepentingan negara berkembang. Termasuk isu Public Stockholding for Food Security Purposes (PSH) untuk menjamin ketahanan pangan,” kata Budi.

Dalam kesempatan itu, Budi mengajak seluruh anggota untuk memperkuat solidaritas menghadapi dominasi negara-negara besar di dunia. Kepemimpinan aktif Indonesia bertujuan memastikan suara petani kecil tetap terdengar dalam meja perundingan global.

Sementara itu, Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala mendukung identifikasi prioritas yang dilakukan oleh kelompok G-33 tersebut. Ia sepakat perundingan pertanian harus segera bergulir kembali demi kredibilitas organisasi perdagangan dunia.

Menurutnya, kondisi global yang tidak menentu menjadikan masalah pangan sebagai isu paling fundamental bagi manusia. Anggota G-33 berkomitmen menghasilkan kemajuan konkret yang responsif terhadap situasi krisis ekonomi saat ini.

“Dalam situasi global yang tidak menentu, isu ketahanan pangan menjadi salah satu hal fundamental, utamanya bagi negara berkembang. Untuk itu, kelompok G-33, sebagai suara negara berkembang memerankan peranan penting untuk mendorong isu tersebut dibahas dalam KTM ke-14,” ujar Ngozi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....