PDIP Papua: Warisan Terbesar Bung Karno, Keberpihakan pada Rakyat Kecil
- 23 Jun 2026 03:09 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura – PDI Perjuangan Papua menggelar resepsi Bulan Bung Karno di Kantor DPD PDIP Papua, Minggu (21/6/2026) dalam mengenang wafatnya Bung Karno pada 21 Juni 1970.
Ketua DPD PDIP Papua, Benhur Tomi Mano, dalam pidatonya menegaskan peringatan Bulan Bung Karno menjadi momentum untuk meneladani dan melanjutkan cita-cita besar pendiri bangsa tersebut bagi kemerdekaan dan persatuan Indonesia.
Kata Benhur, mengusung tema “Papua dalam Napas Marhaenisme Bung Karno”, yang memiliki makna mendalam lantaran, Papua merupakan salah satu perjuangan terbesar Bung Karno dalam sejarah bangsa Indonesia.
“Ketika Belanda masih mempertahankan Irian Barat setelah Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Bung Karno dengan tegas mengatakan bahwa Revolusi Indonesia belum selesai sebelum Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,” katanya.
Lanjut BTM, pada tanggal 19 Desember 1961, Bung Karno mencanangkan Trikora sebagai tonggak perjuangan pembebasan Irian Barat. Perjuangan tersebut kemudian membuahkan hasil melalui Perjanjian New York tahun 1962 dan akhirnya pada 1 Mei 1963, Papua resmi kembali ke dalam administrasi Indonesia.
“Namun Bung Karno tidak hanya memperjuangkan tanah Papua. Beliau juga memikirkan masa depan manusia Papua. Karena itu pada 10 November 1962, didirikan Universitas Cenderawasih sebagai perguruan tinggi pertama di Tanah Papua,” ujarnya.
Ia menyebut Bung Karno memahami kemerdekaan sejati bukan hanya membebaskan wilayah, tetapi juga mencerdaskan rakyatnya. Menurutnya, Bung Karno menginginkan agar putra-putri Papua menjadi pemimpin di tanahnya sendiri.
“Semangat yang sama ditunjukkan ketika Bung Karno menunjuk Eliezer Jan Bonay dan kemudian Frans Kaisieposebagai Gubernur Irian Barat. Ini adalah bukti bahwa sejak awal Bung Karno mempercayai kemampuan Orang Asli Papua untuk memimpin dan membangun daerahnya sendiri,” katanya.
BTM mengingatkan warisan terbesar Bung Karno bagi Papua bukanlah gedung, bukan monumen, dan bukan pula jabatan. Namun Marhaenisme yang mengajarkan keberpihakan kepada rakyat kecil, gotong royong, persatuan dan keadilan sosial.
“Nilai-nilai tersebut sangat relevan bagi Papua hari ini. Papua yang kaya sumber daya alam harus menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat Papua. Papua yang kaya budaya harus tetap menjaga identitas dan martabatnya. Papua harus maju tanpa kehilangan jati dirinya,” ucap dia.
Menurutnya, makna Trisakti Bung Karno merupakan berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam Kebudayaan. Terlebih dalam lomba pidato yang digelar kepada generasi muda Papua.
“Ini membuktikan bahwa api pemikiran Bung Karno masih menyala di hati generasi muda Papua. Saya berharap para juara tidak berhenti sampai di sini. Teruslah belajar, teruslah membaca, teruslah berani menyampaikan gagasan, karena masa depan Papua membutuhkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan memiliki keberanian memperjuangkan kepentingan rakyat,” ucapnya.
Sementara kata dia, keberhasilan seluruh rangkaian Bulan Bung Karno Tahun 2026 tidak terlepas dari kerja keras banyak pihak. Oleh karena itu ia mengapresiasi seluruh kader lantaran, terus menjadikan Bulan Bung Karno sebagai momentum memperkuat persatuan, memperkuat gotong royong, dan memperkuat pengabdian kita kepada rakyat.
“Tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan itu. Melawan kemiskinan, ketertinggalan, kebodohan dan perpecahan serta menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Papua. Semoga semangat Bung Karno terus hidup di Tanah Papua,” kata dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....