Festival Colo Sagu, Misi Kebangkitan Pangan Lokal Papua
- 21 Mei 2026 07:51 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura – Yayasan Colo Sagu Nusantara bersama Polresta Jayapura Kota gelar diskusi bertemakan "Kebangkitan Pangan Lokal Papua" di Taman Imbi, Kota Jayapura, Rabu (20/5/2026) malam.
Diskusi ini menjadi bagian sebagai Festival Colo Sagu III, yang akan berlangsung pada 19 - 21 Juni 2026 mendatang.
Ketua YCSN, Michael Jhon Yarisetouw menjelaskan sagu lahir dari keyakinan bahwa kebangkitan pangan lokal harus dimulai dari kesadaran budaya, bukan sekadar program proyek.
Dimana iven colo sagu edisi ketiga nanti mengingatkan seluruh warga untuk terus menjaga ekosistem sagu, dengan melibatkan mama-mama Papua, UMKM lokal, akademisi, dan aparat keamanan dalam satu gerakan bersama.
“Gerakan ini berdiri di atas tiga pilar utama yaitu ketahanan pangan, kearifan budaya lokal, dan keberlanjutan lingkungan hidup. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, sagu yang baik lahir dari hutan yang terjaga, budaya yang dihormati, dan masyarakat yang berdaya," kata Michael.
Ia berharap upaya menjaga dan mengembangkan ekosistem hutan sagu bisa menjadi misi bersama.
Sehingga bincang sagu ini bukan hanya tentang diskusi, melainkan ruang yang dapat melahirkan rekomendasi konkret dan pernyataan bersama untuk mendorong kebangkitan pangan lokal Papua.
Sementara Walikota Jayapura, Abisai Rollo mengapresiasi sekaligus menjelaskan pentingnya menjaga hutan sagu bagi generasi mendatang. Menurutnya, sagu merupakan kehidupan bagi masyarakat asli Papua.
“Sagu ini penting bagi kehidupan, karena bisa menunjang ekonomi keluarga. Pemerintah Kota Jayapura tentu sangat mendukung penuh program festival colo sagu edisi ketiga ini nanti. Karena ini adalah ruang kita bersama untuk mengingatkan semua elemen menjaga dan melestarikan sagu di Papua, khususnya Kota Jayapura,” ucap dia.
Senada disampaikan Kapolresta Jayapura, Kombes Pol Fredrickus Williamson Agustinus Maclarimboen, mengatakan festival colo sagu ini untuk mengingatkan kembali seluruh pihak terhadap pentingnya sagu sebagai warisan dan sumber kehidupan masyarakat Papua.
Menurutnya, sagu telah ada sejak Tanah Papua ada dan menjadi anugerah Tuhan bagi masyarakat yang hidup dan menetap di Papua.
“Sagu ini sudah ada sejak tanah ini ada. Sagu adalah anugerah Tuhan bagi masyarakat Papua. Meskipun hutan sagu ini mulai berkurang, padahal memiliki banyak manfaat dalam kehidupan masyarakat Papua, bukan hanya sebagai bahan pangan,” jelas dia.
Ia menilai potensi sagu juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekowisata Papua, misalnya dengan membuat miniatur rumah tradisional berbahan dasar sagu sebagai daya tarik wisata.
“Kalau bicara sagu, bukan hanya soal pangan. Di dalam sagu ada banyak manfaat dan nilai ekonomi yang bisa dikembangkan,” jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....