Kemendikdasmen Perkenalkan Lalubi untuk Karya Anak Berkebutuhan Khusus
- 17 Jul 2026 13:05 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kemendikdasmen meluncurkan Lapak Luar Biasa (Lalubi), platform digital yang dirancang sebagai ruang apresiasi dan promosi karya peserta didik berkebutuhan khusus dari seluruh Indonesia.
- Program peningkatan kompetensi guru SLB bidang TIK berlangsung di Hotel Rizen Padjajaran, Bogor, dengan melibatkan 30 guru terbaik yang dipilih dari 855 pendaftar, termasuk guru dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
- Platform Lalubi akan memperkuat pendidikan inklusif dan mendorong kemandirian peserta didik berkebutuhan khusus melalui pemanfaatan teknologi digital serta kesempatan mengembangkan keterampilan kewirausahaan dan partisipasi ekonomi.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen mulai mengenalkan Lapak Luar Biasa atau Lalubi dalam Program Peningkatan Kompetensi Guru SLB atau Sekolah Luar Biasa Bidang Keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Hotel Rizen Padjajaran, Bogor, yang berlangsung selama empat hari dimulai pada Selasa, 14 Juli 2026. Platform digital Lalubi yang diperkenalkan dalam kegiatan itu sebagai ruang apresiasi karya peserta didik berkebutuhan khusus sekaligus mendukung penguatan pendidikan inklusif melalui pemanfaatan teknologi digital.
Kegiatan peningkatan kompetensi Guru SLB itu sendiri diselenggarakan oleh Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus. Tujuannya meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi pada proses pembelajaran.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati, mengatakan guru SLB memiliki peran penting dalam membuka ruang tumbuh bagi anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, profesi guru SLB merupakan bentuk pengabdian yang membutuhkan kepedulian, kesabaran, dan komitmen.
"Tidak banyak orang yang memilih mengabdikan diri di sekolah luar biasa. Karena itu, dedikasi para guru SLB merupakan sesuatu yang patut dihargai," ujar Rita.
Rita berharap pelatihan penongkatan kompetensi tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis guru, tetapi juga melahirkan inovasi pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Ia menilai guru perlu menjadi agen perubahan agar praktik pembelajaran yang baik dapat terus berkembang di setiap sekolah.
"Guru harus mampu menjadi agen perubahan agar lahir berbagai praktik baik yang semakin berpihak kepada anak berkebutuhan khusus," ucapnya.
Lalubi, Ruang Apresiasi Karya Anak Berkebutuhan Khusus
Selain meningkatkan kompetensi guru di bidang TIK, program ini juga menjadi momentum memperkenalkan Lalubi atau Lapak Luar Biasa, sebuah platform digital yang dirancang sebagai ruang apresiasi terhadap karya peserta didik pendidikan khusus dari berbagai daerah di Indonesia.
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, mengatakan peningkatan kompetensi guru harus diikuti dengan pembangunan ekosistem pembelajaran yang memberi ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya. Menurutnya, Lalubi hadir bukan sekadar sebagai sarana pemasaran, tetapi juga bentuk pengakuan terhadap karya peserta didik berkebutuhan khusus.
"Tujuan utama platform ini bukan hanya menjual produk, tetapi memberikan pengakuan bahwa anak berkebutuhan khusus mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan bernilai," kata Arif.
Berdasarkan keterangan resmi dari laman Kemendikdasmen yang kami akses pada Jumat, 17 Juli 2026, Lalubi dikembangkan sebagai wadah promosi, pemasaran, dan pengembangan hasil karya peserta didik berkebutuhan khusus dari Aceh hingga Papua. Ke depan, platform tersebut juga akan mencakup peserta didik berkebutuhan khusus yang belajar di satuan pendidikan inklusif sehingga memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi.
Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Ahmad Budidarma, mengatakan antusiasme guru terhadap program tersebut cukup tinggi. Sebanyak 855 guru mendaftar, kemudian 812 guru dinyatakan lolos administrasi untuk mengikuti pembelajaran daring, sebelum akhirnya dipilih 30 guru terbaik mengikuti pelatihan praktik di Bogor.
"Kami ingin memastikan peningkatan kompetensi guru pendidikan khusus tidak hanya dirasakan oleh guru di kota besar. Guru dari wilayah perbatasan juga harus mendapatkan kesempatan yang sama," ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, peserta berasal dari berbagai daerah, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar seperti Pulau Morotai, Maluku Utara. Keberagaman tersebut diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik dalam pemanfaatan teknologi digital untuk pembelajaran pendidikan khusus.
Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus juga menggandeng Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology, Universitas Negeri Malang, Universitas Gunadarma, serta guru Sekolah Luar Biasa berprestasi sebagai narasumber. Melalui kolaborasi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berharap penguatan kompetensi guru dan pemanfaatan Lalubi dapat memperkuat pendidikan inklusif sekaligus mendorong kemandirian peserta didik berkebutuhan khusus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....