Busana Swarovski Jemaah Haji Kembali Jadi Sorotan Sepulang dari Tanah Suci
- 09 Jun 2026 18:58 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Fenomena busana “blink-blink” yang kerap dikenakan jemaah haji asal Bugis-Makassar saat kembali dari Tanah Suci kembali menjadi perbincangan publik. Di tengah berbagai penilaian yang mengaitkannya dengan kemewahan dan sikap pamer, Hj. Dahliah, jemaah asal Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, menegaskan bahwa pakaian tersebut merupakan simbol rasa syukur dan kebahagiaan setelah menunaikan ibadah haji.
Pernyataan itu disampaikannya menjelang prosesi serah terima jemaah Kloter 09 UPG Debarkasi Makassar di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Senin, 8 Juni 2026.
“Tidak ada sama sekali niat untuk sombong atau pamer. Ini adalah ungkapan rasa syukur karena Allah memberikan kesempatan menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat,” ujarnya.
Menurut Hj. Dahliah, busana berhias manik-manik atau swarovski yang identik dengan kesan berkilau telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bugis-Makassar saat menyambut kepulangan jemaah haji. Pakaian tersebut dikenakan sebagai bentuk kegembiraan setelah menyelesaikan rukun Islam kelima.
“Bagi kami, ini bukan soal kemewahan. Tidak ada maksud riya atau ingin dipuji. Ini hanya cara mengekspresikan kebahagiaan dan rasa syukur,” katanya.
Ia mengungkapkan, pakaian yang dikenakannya bahkan telah dipersiapkan sejak sebelum berangkat ke Arab Saudi.
“Busana ini sudah dibeli di Makassar sebelum berangkat haji. Jadi memang sejak awal disiapkan untuk dipakai saat pulang sebagai bentuk rasa syukur,” jelasnya.
Berangkat bersama sembilan anggota keluarga, Hj. Dahliah berharap masyarakat dapat melihat tradisi tersebut secara lebih bijak dan tidak langsung memberikan penilaian negatif. “Semua kembali pada niat masing-masing. Saya memakai pakaian ini karena bahagia dan bersyukur, bukan untuk menunjukkan sesuatu kepada orang lain,” tuturnya.
Di Sulawesi Selatan, tradisi penyambutan jemaah haji memang dikenal berlangsung meriah. Kehadiran keluarga, kerabat, hingga masyarakat yang turut menyambut membuat banyak jemaah memilih mengenakan pakaian terbaik saat kembali ke kampung halaman. Dalam ajaran Islam, mengenakan pakaian yang indah tidak dilarang selama tidak disertai kesombongan atau niat merendahkan orang lain. Karena itu, tradisi busana “blink-blink” yang masih lestari di kalangan masyarakat Bugis-Makassar lebih dipandang sebagai perpaduan antara ekspresi budaya, kebahagiaan, dan rasa syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....