Menyembelih Berhala Modern, Menghidupkan Nalar Tauhid
- 28 Mei 2026 00:01 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Padang Panjang— Gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang syahdu membelah langit Kota Serambi Mekkah, Rabu (27/5/2026) pagi. Ribuan jamaah tampak memadati Masjid Raya Jihad Kota Padangpanjang untuk melaksanakan shalat Idul Adha 1447 H dengan khidmat.
Ada yang berbeda pada khutbah Idul Adha kali ini. Di hadapan ribuan pasang mata, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Payakumbuh,Ustadz Dr. Irwandi Nashir menyampaikan pesan spiritual yang menukik tajam sebagai kritik sosial terhadap kondisi umat saat ini.
Dr. Irwandi Nashir mengajak jamaah melakukan napak tilas spiritual terhadap ketauhidan Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang rasional, sekaligus mendeklarasikan perang terhadap "berhala-berhala modern" yang mulai menggerogoti akal sehat umat.
"Esensi dari ibadah haji dan qurban yang kita saksikan hari ini bukan sekadar ritual kosmetik yang berulang setiap tahun. Intinya adalah mengembalikan tauhid murni, sebuah keyakinan yang memederkakan akal dan jiwa manusia," ujar dosen Universitas Islam Negeri Bukittinggi itu.
Dalam khutbahnya, Dr. Irwandi membedah pesan Surat Al-An’am ayat 80-83. Beliau menjabarkan lima hujjah (argumen) ketauhidan Nabi Ibrahim yang sangat relevan untuk menguliti fenomena beragama yang melenceng dari nalar sehat saat ini:
- Hujjah Pertama (Hidayah Allah): Kesalehan dan ketaatan manusia bukanlah hasil kehebatan diri pribadi, melainkan murni hidayah dari Allah SWT.
- Hujjah Kedua (Ber-I’tishom): Kewajiban hanya berlindung dan bergantung kepada Allah, bukan bersandar pada harta, jabatan, atau sesama makhluk.
- Hujjah Ketiga (Keluasan Ilmu Allah): Mengakui ilmu manusia sangat sedikit, sehingga wajib berbaik sangka (husnudzon) atas segala takdir dan ketetapan Allah.
- Hujjah Keempat (Kelogisan Tauhid): Islam adalah agama rasional yang menjaga nalar (hifzhul 'aql). Menaruh harapan dan rasa takut pada makhluk yang lemah adalah hal tidak logis.
- Hujjah Kelima (Jaminan Keamanan): Ketenangan jiwa (mental health) yang sejati hanya akan didapatkan jika iman bersih dari kezaliman kesyirikan dan khurafat.
Sentilan Keras: Dari Krisis Moral Pesantren Hingga Dikotomi Sains
Menggunakan kelogisan argumen tauhid tersebut, Dr. Irwandi memberikan koreksi mendalam atas maraknya kasus perundungan (bullying) dan pelecehan seksual di pesantren, dikotomi yang memisahkan agama dari sains dalam pembelajaran, hingga silaunya manusia dengan kecanggihan temuan akal sehingga lupa kepada Pencipta akal .
Alih-alih mengecam, dosen UIN Bukittinggi ini melayangkan sentilan edukatif yang mengetuk hati; beliau mengingatkan bahwa membungkus kejahatan moral dengan dalih mistis-spiritual ataupun memisahkan ilmu alam dari kuasa Pencipta adalah bentuk penyimpangan berpikir yang merusak kesucian lembaga dan membelah kepribadian generasi muda.
Di akhir koreksinya, beliau menyelipkan harapan besar agar para pelaku penyimpangan tersebut segera mengetuk pintu tobat, memperbaiki sistem pendidikan umat, serta mendoakan agar Allah SWT senantiasa membukakan pintu hidayah bagi mereka untuk kembali ke jalan yang lurus.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....