Dari Jualan Sayur Keliling ke Tanah Suci, Perjuangan Haru Seorang Ibu Asal Bombana

  • 17 Mei 2026 20:46 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah ramainya calon jemaah haji Kloter 38 Asal Provinsi Sulawesi Tenggara yang bersiap berangkat ke Tanah Suci, sosok perempuan sederhana bernama Kamaria mencuri perhatian. Perempuan 66 tahun asal Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara itu tak kuasa menyembunyikan rasa harunya setelah penantian panjang selama lebih dari satu dekade akhirnya terbayar lunas: berangkat haji dari hasil berjualan sayur keliling.

Wajahnya tampak teduh. Tutur katanya pelan dan sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan kisah perjuangan panjang seorang ibu yang setiap hari menyisihkan sebagian kecil penghasilannya demi memenuhi panggilan ke Baitullah.

“Sudah lega,” ucap Kamaria singkat sambil tersenyum ketika ditanya perasaannya menjelang keberangkatan, Minggu 17 Mei 2026.

Bagi sebagian orang, pergi haji mungkin dapat diraih lewat tabungan besar atau usaha mapan. Namun bagi Kamaria, perjalanan itu dimulai dari menjajakan buah dan sayur dari kampung ke kampung.

Ia mulai menabung sejak tahun 2013. Saat itu, suaminya masih hidup dan ia masih aktif berjualan untuk menopang kebutuhan keluarga. Dari penghasilan sederhana itulah impian berhaji perlahan dibangun. Setiap hari, perempuan yang kini telah memiliki dua anak itu menyisihkan sekitar Rp50 ribu dari keuntungan berdagang.

Jumlah itu mungkin terlihat kecil, apalagi penghasilan bersihnya sehari hanya sekitar Rp100 ribu. Namun ketekunan membuat tabungan hajinya terus bertambah sedikit demi sedikit. “Kalau sudah cukup seratus, saya merasa lega,” katanya mengenang masa-masa menabung.

Yang dimaksud “seratus” oleh Kamaria adalah target tabungan awal yang ia pasang untuk mendekati biaya pendaftaran haji. Tanpa terasa, tabungannya terus berkembang hingga akhirnya cukup untuk mendaftar dan menunggu antrean keberangkatan.

Perjalanan hidup Kemaria juga tidak mudah. Ia kini harus menjalani semuanya sendiri setelah sang suami meninggal dunia. Meski demikian, kondisi itu tidak membuat semangatnya surut. Ia tetap berjualan sayur keliling demi bertahan hidup sekaligus menjaga harapan suatu hari bisa melihat Ka’bah secara langsung.

Tidak ada cara instan dalam perjuangannya. Tidak ada penghasilan besar. Semuanya dijalani perlahan, dengan kesabaran khas seorang ibu yang terbiasa hidup sederhana.

Kini, setelah penantian panjang selama 13 tahun, Kamaria akhirnya mendapat kesempatan berangkat ke Tanah Suci.

Di usianya yang sudah lanjut, ia tidak memiliki harapan muluk-muluk. Ia hanya ingin menunaikan ibadah haji dengan baik dan mendoakan anak cucunya agar suatu hari juga mendapat kesempatan yang sama.

“Doanya untuk anak cucu semua supaya bisa ke sana juga,” tuturnya lirih.

Meski akan menyandang gelar hajjah sepulang dari Arab Saudi nanti, Kemaria mengaku belum tentu berhenti berdagang. Baginya, bekerja tetap menjadi bagian dari hidup yang harus dijalani. “Kalau masih bisa menghidupi kita, ya tetap jualan,” katanya.

Kisah Kamaria menjadi potret keteguhan banyak jemaah haji Indonesia dari kalangan sederhana. Bahwa perjalanan menuju Tanah Suci bukan hanya tentang kemampuan ekonomi, tetapi juga tentang kesabaran, kerja keras, dan keyakinan yang dirawat bertahun-tahun.

Dari uang receh hasil menjual sayur keliling, seorang ibu di Bombana akhirnya berhasil memenuhi panggilan suci yang selama ini hanya ia simpan dalam doa-doa panjangnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....