Bulan Menggantung di Langit Jingga, Refleksi Kehidupan lewat Sastra

  • 10 Jul 2026 13:58 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Bulan dan senja bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga simbol kehidupan, harapan, cinta, dan perjalanan manusia. Makna tersebut menjadi pembahasan dalam program Ruang Sastra RRI Pro4 Banjarmasin bertema "Bulan Menggantung di Langit Jingga", Kamis, 9 Juli 2026, yang menghadirkan penyair Gusti Indra Setyawan, Elly Rahmah, dan Rasyid Zaki sebagai narasumber.

Elly Rahmah menjelaskan, tema Bulan Menggantung di Langit Jingga tidak hanya menggambarkan fenomena alam, tetapi juga menyimpan beragam makna kehidupan. Menurutnya, bulan dan senja merupakan simbol yang dapat dimaknai berbeda oleh setiap orang sesuai pengalaman hidup masing-masing.

"Senja bisa dimaknai sebagai fase kehidupan yang semakin matang," ujarnya. Sementara bulan yang menggantung di langit jingga menjadi simbol harapan, cinta, hingga perjalanan seseorang menuju penghujung usia.”

Sementara itu, Gusti Indra Setyawan mengibaratkan bulan sebagai sesuatu yang indah, tetapi sulit digapai. Baginya, simbol tersebut dapat merepresentasikan cinta, kerinduan, maupun refleksi perjalanan hidup manusia.

"Puisi yang saya tulis bukan ditujukan kepada seseorang secara khusus,” katanya. “Tetapi untuk siapa saja yang pernah merasakan cinta, kehilangan, rindu, maupun kekecewaan.”

Pada kesempatan itu, Gusti juga membacakan puisi berjudul Roman Tentang Namamu yang akan dimuat dalam antologi puisi terbaru. Ia mengungkapkan buku tersebut direncanakan diluncurkan pada Oktober 2026 dalam kegiatan Aruh Sastra di Amuntai.

Berbeda dengan dua narasumber lainnya, Rasyid Zaki memandang aktivitas menulis sebagai media untuk mengurai keresahan sekaligus menenangkan diri setelah menjalani rutinitas sehari-hari. Menurutnya, setiap kata yang ditulis dapat menjadi ruang refleksi sekaligus penyembuhan bagi penulis maupun pembacanya.

"Melalui kata-kata, saya mencoba merawat luka," ujarnya. “Mengubah kegelisahan menjadi sesuatu yang bisa menguatkan diri sendiri maupun orang lain.”

Para narasumber juga menyoroti perubahan pola interaksi sosial di tengah perkembangan teknologi. Elly Rahmah menilai kehadiran gawai mulai mengurangi intensitas komunikasi tatap muka sehingga ruang kebersamaan dalam masyarakat perlu terus dijaga melalui berbagai aktivitas, termasuk sastra.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....