Kirana Widura, Ning Ayu 2026 yang Konsern dengan Pelestarian Budaya
- 17 Jul 2026 20:06 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Bali adalah pulau indah yang selama ini kesohor dengan kekayaan budaya. Bahkan budaya menjadi identitas sekaligus taksu Pulau Dewata dalam mendatangkan wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Ning Ayu 2026, Pande Kirana Tunggadewi Widura berpandangan, budaya adalah bagian penting bagi kehidupan masyarakat Bali. Oleh karenanya, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk tidak mengenyampingkan budaya yang telah diwariskan leluhur.
"Generasi muda jangan pernah merasa bahwa budaya adalah sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman," katanya kepada wartawan di Denpasar, Jumat 17 Juli 2026.
"Budaya adalah identitas kita, dan tugas generasi muda adalah memastikan identitas tersebut tetap hidup di masa depan," lanjut Kirana Widura.
Menurutnya, modernitas tidak boleh menggeser budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Justru keduanya kata Kirana Widura harus saling mengisi dan melengkapi.
"Saya percaya bahwa budaya dan modernitas tidak perlu dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan berdampingan selama generasi muda tetap memiliki rasa bangga dan keinginan untuk melestarikan budaya tersebut," kata dara berparas ayu itu.
Pada kesempatan itu, Kirana Widura juga bercerita soal perjalanannya menggapai gelar sebagai Ning Ayu 2026. Ia mengaku, pemilihan Ning Ayu 2026 adalah pageant (kontes kecantikan) pertama yang diikuti.
Banyak pengalaman ia dapatkan selama proses pemilihan Ning Ayu 2026. Salah satunya mengajarkan Kirana Widura untuk berani keluar dari zona nyaman.
"Sebagai pageant pertama saya, perjalanan ini mengajarkan bahwa keberanian untuk mencoba sering kali membawa kita ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya," ucap dara berusia 18 tahun itu.
"Karena itu, saya ingin mengajak generasi muda untuk tidak takut mencoba hal baru atau keluar dari zona nyaman, karena di situlah kita sering menemukan versi terbaik dari diri kita sendiri," sambungnya.
Kirana mengaku, tantangan terbesar selama mengikuti ajang ini adalah belajar melawan rasa gugup dan ekspektasi terhadap diri sendiri. Namun kondisi itu diakui sebagai proses pembelajaran yang membuatnya lebih percaya pada kemampuannya sendiri.
"Tentu saya merasa sangat bersyukur, bahagia, dan juga terharu bisa menjadi Ning Ayu 2026. Namun di balik kebahagiaan tersebut, saya menyadari bahwa gelar ini bukan hanya sebuah pencapaian, melainkan sebuah tanggung jawab untuk membawa nama Ning Ayu dan Kabupaten Gianyar dengan sebaik mungkin selama satu tahun ke depan," sebutnya.
Kirana tidak menganggap mahkota yang diraih sebagai simbol kemenangan. Mahkota Ning Ayu 2026 dikatakan menjadi simbol kepercayaan dan tanggung jawab.
"Mahkota ini mengingatkan saya untuk terus belajar, bertumbuh, dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta budaya Bali," ujarnya.
“Sejujurnya saya datang ke ajang ini bukan dengan fokus untuk menang, melainkan untuk belajar, bertumbuh, dan keluar dari zona nyaman saya. Karena itu, ketika nama saya dipanggil, saya merasa sangat bersyukur dan tidak menyangka perjalanan ini akan membawa saya sampai ke titik ini.” lanjut Kirana.
Kirana mengakui, pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Keluarga disebut menjadi pihak yang paling berperan besar atas prestasinya di ajang Ning Ayu 2026.
"Tentu keluarga, terutama mama saya yang selalu membantu saya dari hal kecil di awal perjalanan sampai hal-hal besar di akhir perjalanan, mentor, teman-teman, dan seluruh pihak yang terus mendukung serta percaya kepada saya sejak awal perjalanan ini," ungkap Kirana Widura.
"Karena saya tidak mungkin bisa sampai di titik ini jika hanya dari seorang diri dan tanpa adanya dukungan yang sangat berjasa ini," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....