Film Juminten Edan, Pulang Kampung Berujung Teror Panjang
- 15 Jul 2026 11:51 WIB
- Denpasar
RRI. CO.ID, Denpasar – Juminten Edan hadir sebagai film drama horor thriller yang memadukan luka keluarga, trauma lama, dan ketegangan yang pelan-pelan naik tanpa banyak basa-basi. Film ini tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 23 Juli 2026, dan sumber penayangannya juga tercantum di Cinema XXI.
Film ini digarap oleh Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh, dengan produksi dari Mercusuar Films bersama Digital Frame Production. Durasi film tercatat 1 jam 48 menit di Cinema XXI, sementara rating umur Dewasa 17+, nuansanya jelas mengarah ke penonton remaja dewasa ke atas.
Cerita berpusat pada Juminten yang diperankan Meisya Amira, seorang perempuan tunawicara yang pulang ke pulau masa kecilnya bersama suami Manto dan anak mereka, Saskia. Setelah delapan tahun merantau, kepulangan mereka awalnya disambut hangat keluarga, seolah semua kerinduan akhirnya terbayar lunas.
| Baca juga: Magnet Rilis EP Baru "Matahari Hati" |
Namun hangatnya sambutan itu tidak bertahan lama. Perilaku Juminten perlahan berubah tak wajar, lalu muncul rangkaian kejadian yang membuat rumah dan pulau itu terasa makin sesak. Di beberapa momen, ia bahkan mengancam keselamatan orang terdekatnya, sehingga suasana yang semula seperti reuni berubah jadi ancaman nyata.
Yang menarik, film ini tidak hanya berjalan di jalur horor biasa. Di balik ketegangan yang dibangun, ada lapisan cerita tentang trauma, stigma terhadap disabilitas, dan cara orang membaca “kegilaan” tanpa benar-benar memahami sumber lukanya. Itulah yang membuat Juminten Edan terasa lebih manusiawi sekaligus lebih gelap.
Pemeran lain yang ikut menghidupkan film ini antara lain Dimas Aditya, Sharon Jovian, Anne J. Coto, Kukuh Prasetya, Deden Bagaskara, Bambang Oeban, dan Teguh Julianto. Kehadiran mereka memperkuat cerita keluarga yang retak sekaligus memberi ruang pada konflik yang makin membesar di tengah pulau yang sunyi.
Kalau dilihat dari premisnya, Juminten Edan cocok untuk penonton yang suka horor dengan emosi yang ikut bekerja, bukan hanya kaget sesaat. Film ini membawa rasa takut yang menempel, karena sumber terornya bukan cuma sesuatu yang tak terlihat, tetapi juga luka manusia yang belum selesai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....