Jepara Perkuat Identitas Bumi Kartini Melalui Film Budaya
- 12 Jul 2026 10:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah Kabupaten Jepara memperkuat identitas daerah sebagai bumi kelahiran R.A. Kartini melalui pemutaran dan diskusi Film Kartini versi PBB di Museum Nasional Indonesia.
- Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar menekankan bahwa pemikiran Kartini tentang kebebasan berpikir dan emansipasi perempuan harus terus diperkenalkan kepada generasi muda, bukan hanya dirayakan dalam peringatan tahunan.
- Sutradara Hanung Bramantyo menilai bahwa film berfungsi sebagai pemantik rasa ingin tahu dan harus terintegrasi dengan institusi budaya lain seperti pameran, perpustakaan, dan ruang budaya untuk pemahaman sejarah yang komprehensif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Kabupaten Jepara memperkuat identitas daerah sebagai bumi kelahiran R.A. Kartini. Upaya tersebut dilakukan melalui pemutaran dan diskusi Film Kartini versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengatakan, Kartini tidak cukup dikenang melalui peringatan tahunan. Pemikiran Kartini harus terus diperkenalkan kepada generasi muda.
"Kartini adalah semangat untuk terus hidup, belajar, dan berpikir merdeka. Nilainya mengajarkan pentingnya membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat," kata Ibnu dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film Kartini versi PBB yang menjadi bagian dari rangkaian pameran TATAH di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu, 11 Juli 2026.
Untuk itu, ia mengajak masyarakat mengunjungi Jepara untuk mengenal jejak kehidupan Kartini. Berbagai lokasi bersejarah menyimpan perjalanan dan lahirnya pemikiran tokoh emansipasi tersebut.
Sementara itu, sutradara film biopik Kartini, Hanung Bramantyo menilai Jepara memiliki kekuatan sejarah yang tidak dimiliki daerah lain. Identitas lokal tersebut perlu dipertahankan dalam pembangunan daerah.
"Jepara harus menjaga karakter sebagai bumi kelahiran Kartini. Jejak sejarahnya perlu dipertahankan agar dapat dirasakan masyarakat dan wisatawan," kata Hanung.
Ia mengatakan, film memiliki fungsi utama sebagai pemantik rasa ingin tahu. Sehingga bukan hanya sebagai sumber pengetahuan yang lengkap.
"Film memberi rangsangan kepada penonton untuk kemudian mencari literatur, membaca buku, atau mempelajari sejarah lebih dalam. Karena itu, film, pameran, perpustakaan, dan ruang budaya seharusnya saling terintegrasi," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....