Film Kartini Dekatkan Gagasan Emansipasi kepada Generasi Muda

  • 12 Jul 2026 09:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film Kartini versi PBB ditayangkan di Museum Nasional Indonesia sebagai medium mengenalkan kembali pemikiran R.A. Kartini kepada generasi muda
  • Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar menekankan Kartini adalah simbol keberanian berpikir, belajar, dan memperjuangkan kesempatan setara yang tetap relevan.
  • Kolaborasi antara film, pameran, dan diskusi publik menciptakan ruang pembelajaran untuk menggali pemikiran progresif Kartini dan menerjemahkannya dalam konteks masa kini.

RRI.CO.ID, Jakarta - Film Kartini versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi medium mengenalkan kembali pemikiran R.A. Kartini kepada generasi muda. Pemutaran film berlangsung dalam rangkaian pameran TATAH di Museum Nasional Indonesia.

Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengatakan, Kartini bukan sekadar tokoh yang diperingati setiap tahun. Menurutnya, Kartini merupakan simbol keberanian berpikir, belajar, dan memperjuangkan kesempatan setara.

"Bagi masyarakat Jepara, Kartini adalah semangat untuk terus belajar dan berpikir merdeka. Semangatnya membuka kesempatan bagi semua masyarakat," kata Ibnu dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film Kartini versi PBB yang menjadi bagian dari rangkaian pameran TATAH di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu, 11 Juli 2026.

Ia mengatakan, film ini mampu mendekatkan nilai perjuangan Kartini melalui bahasa visual. Medium tersebut dinilai lebih mudah dipahami generasi masa kini.

Selain itu, lanjut dia, film juga mengajak masyarakat memahami perubahan yang bermula dari keberanian berpikir. Gagasan tersebut tetap relevan menghadapi berbagai tantangan zaman.

Dalam kesempatan itu, sutradara film biopik Kartini, Hanung Bramantyo mengatakan, film Kartini versi PBB tersebut berbeda dari tayangan bioskop. Ia mengatakan, penyuntingan ulang dilakukan untuk menghadirkan nilai historis yang lebih autentik.

"Film ini memberi rangsangan kepada penonton untuk mencari literatur dan mempelajari sejarah. Karena itu, ruang budaya perlu saling terintegrasi," kata Hanung.

Sementara itu, Direktur TATAH Veronica Rompies berharap masyarakat mengenal Kartini sebagai pemikir besar. Menurutnya, gagasan progresif Kartini dapat menjadi warisan intelektual bagi generasi muda.

Ia mengatakan, kolaborasi antara film, pameran, dan diskusi publik, penyelenggara dapat melahirkan ruang pembelajaran yang mendorong masyarakat menggali lebih jauh pemikiran Kartini. Sekaligus menerjemahkannya dalam konteks masa kini.

"Mulai dari penguatan literasi, pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, hingga pengembangan ekonomi kreatiif. Di mana berakar pada nilai-nilai lokal," kata Veronica.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....