Merasa Kadang Introvert, Kadang Ekstrovert?, Ini Penjelasan Psikologinya

  • 13 Jul 2026 07:56 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Belakangan ini, istilah introvert dan ekstrovert semakin sering dibahas di media sosial. Banyak orang mulai mengenali dirinya melalui dua label tersebut. Ada yang mengatakan dirinya introvert karena lebih suka menghabiskan waktu sendirian, sementara yang lain merasa sebagai ekstrovert karena senang bertemu banyak orang dan menikmati suasana ramai.

Namun, benarkah kepribadian manusia hanya terbagi menjadi dua kategori itu?

Dalam psikologi, introvert dan ekstrovert memang merupakan dua kecenderungan kepribadian yang menggambarkan bagaimana seseorang memperoleh energi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Introvert umumnya merasa lebih berenergi setelah memiliki waktu untuk diri sendiri, sedangkan ekstrovert cenderung merasa lebih bersemangat ketika berinteraksi dengan orang lain.

Meski demikian, perbedaan ini bukan berarti salah satu lebih baik daripada yang lain.

Yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa seseorang harus sepenuhnya menjadi introvert atau sepenuhnya menjadi ekstrovert. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Sebagian besar orang berada di suatu titik di antara kedua kecenderungan tersebut.

Artinya, seseorang bisa memiliki karakter introvert dalam situasi tertentu, tetapi menunjukkan sisi ekstrovert dalam kondisi yang berbeda.

Misalnya, ada orang yang sangat aktif berbicara ketika bersama teman-teman dekat, tetapi memilih diam saat berada di lingkungan baru. Ada pula seseorang yang menikmati menjadi pembicara di depan banyak orang, tetapi membutuhkan waktu menyendiri setelah acara selesai untuk memulihkan energinya.

Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa kepribadian manusia lebih fleksibel daripada sekadar dua label yang saling bertolak belakang.

Dalam dunia psikologi, orang yang memiliki keseimbangan antara kecenderungan introvert dan ekstrovert sering disebut sebagai ambivert. Ambivert mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Mereka dapat menikmati aktivitas sosial ketika diperlukan, tetapi juga menghargai waktu sendiri untuk beristirahat dan mengisi kembali energi.

Lingkungan, pengalaman hidup, pekerjaan, hingga usia juga dapat memengaruhi cara seseorang mengekspresikan kepribadiannya. Seorang introvert bisa menjadi komunikatif karena tuntutan profesi, misalnya sebagai guru atau pembicara. Sebaliknya, seorang ekstrovert bisa menikmati waktu sendirian ketika sedang membutuhkan ketenangan atau fokus menyelesaikan pekerjaan.

Karena itu, memberi label kepada diri sendiri atau orang lain hanya berdasarkan beberapa kebiasaan sering kali kurang tepat. Menyukai suasana sepi tidak otomatis berarti introvert. Demikian pula, senang menghadiri acara sosial bukan berarti seseorang pasti ekstrovert. Yang lebih penting adalah memahami dari mana seseorang mendapatkan energi dan bagaimana ia merasa paling nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Memahami bahwa kepribadian berada di dalam spektrum juga membantu kita menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan. Tidak semua orang menikmati keramaian, dan tidak semua orang betah sendirian. Setiap individu memiliki cara yang unik dalam berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, dan semua itu merupakan bagian yang normal dari keberagaman manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan "Apakah saya introvert atau ekstrovert?" mungkin tidak selalu memiliki jawaban yang mutlak. Banyak orang memiliki kombinasi keduanya dengan kadar yang berbeda-beda.

Daripada terpaku pada label tertentu, akan lebih bermanfaat jika kita mengenali kebutuhan diri sendiri, memahami cara terbaik untuk menjaga energi, serta menghargai gaya kepribadian orang lain. Dengan begitu, kita bisa membangun hubungan yang lebih sehat sekaligus memahami diri sendiri dengan lebih baik. (DEP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....