Bernadya Hadapi Takut Bahagia lewat Album

  • 29 Jun 2026 15:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Penyanyi dan penulis lagu Bernadya kembali menunjukkan kedewasaannya dalam berkarya melalui album penuh kedua bertajuk Semoga Hanya di Mimpi. Dirilis pada 24 Juni 2026 di bawah naungan JUNI Records, album ini menjadi penanda fase baru perjalanan musikal Bernadya setelah kesuksesan album debut Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan yang mengantarkannya meraih tiga penghargaan AMI Awards 2024. Kali ini, ia tidak sekadar bercerita tentang patah hati, melainkan mengajak pendengar menyelami sisi psikologis yang jarang diangkat dalam karya musik populer.

Alih-alih lahir dari peristiwa besar dalam hidupnya, Semoga Hanya di Mimpi justru tercipta ketika kehidupan Bernadya sedang berjalan tenang. Namun, ketenangan itu memunculkan kegelisahan baru. Ia mengaku dihantui rasa takut bahwa kebahagiaan yang sedang dirasakan hanya menjadi pertanda akan datangnya sesuatu yang buruk. Perasaan tersebut dikenal sebagai cherophobia, yakni ketakutan untuk merasa bahagia karena khawatir kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama.

Tema inilah yang menjadi benang merah seluruh album. Bernadya menuangkan kecemasan, keraguan, hingga pergulatan batin ke dalam lagu-lagu yang ditulis dengan pendekatan personal. Ia bahkan sempat ragu mempertahankan beberapa lirik karena khawatir kata-kata yang ditulis justru menjadi doa. Namun pada akhirnya, ia memilih mempertahankan kejujuran sebagai fondasi utama dalam proses kreatifnya.

Secara musikal, album ini menghadirkan warna yang lebih kaya dibanding karya-karya sebelumnya. Bernadya menggandeng sejumlah produser dan penulis lagu baru, seperti Enrico Octaviano, Dennis Ferdinand, Vega Antares, hingga Baskara Putra. Di sisi lain, kolaborator lamanya, Rendy Pandugo dan Petra Sihombing, kembali memberikan sentuhan yang telah menjadi bagian dari identitas musikal Bernadya. Perpaduan para musisi dengan karakter berbeda tersebut menghasilkan eksplorasi bunyi yang terasa segar tanpa menghilangkan ciri khas sang penyanyi.

Album ini juga membawa nuansa musik Indonesia awal 2000-an ke dalam balutan pop modern. Dominasi instrumen organik dipadukan dengan sentuhan elektronik menciptakan atmosfer hangat yang mengiringi setiap cerita. Bernadya mengaku banyak terinspirasi dari musik era tersebut, termasuk album 18 milik Audy, yang turut memengaruhi arah musikal Semoga Hanya di Mimpi.

Meski menawarkan pendekatan musikal yang berbeda, kekuatan utama Bernadya tetap terletak pada kemampuannya merangkai lirik. Ia kembali menyajikan kalimat-kalimat sederhana yang mampu mewakili perasaan banyak orang, terutama mereka yang hidup berdampingan dengan kecemasan, overthinking, atau rasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar terjadi. Album ini tidak menawarkan jawaban atas kegelisahan tersebut, tetapi menjadi ruang yang nyaman bagi pendengar untuk merasa dipahami.

Keberanian Bernadya mengangkat tema kesehatan emosional melalui sudut pandang yang intim menjadi nilai lebih dari album ini. Ia membuktikan bahwa musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga medium refleksi yang mampu menjembatani pengalaman personal dengan pengalaman kolektif para pendengarnya. Hal itu pula yang membuat karya-karyanya selalu terasa relevan lintas generasi.

Kini, Semoga Hanya di Mimpi telah tersedia di berbagai platform musik digital dan dalam waktu dekat akan hadir dalam format fisik berupa CD serta kaset. Bernadya berharap album ini dapat menjadi teman bagi siapa pun yang sedang berusaha berdamai dengan rasa takut, sekaligus mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicurigai. Kadang, ketenangan memang layak dirayakan, bukan sekadar dianggap sebagai awal dari sebuah kehilangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....