Filosofi Arsitektur dan Tingkatan Adat Rumah Limas Sumatera Selatan
- 29 Jun 2026 08:26 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Rumah Limas, atau yang kerap dijuluki Rumah Bari, merupakan hunian panggung tradisional khas masyarakat Sumatera Selatan yang menonjolkan keindahan estetika melalui ragam hias pelambang identitas adat. Salah satu keunikan yang paling mencolok adalah struktur lantainya yang dirancang bertingkat-tingkat atau berundak yang dikenal dengan istilah bengkilas atau kijing.
Bangunan tradisional ini memiliki ukuran yang sangat luas, berkisar antara 400 hingga lebih dari 1000 meter persegi, sehingga sangat ideal untuk menyelenggarakan berbagai upacara adat atau hajatan keluarga. Menariknya, selain menjadi ikon kebudayaan di Indonesia, arsitektur serupa juga dapat dijumpai di kawasan Malaysia, seperti di daerah Johor, Selangor, dan Terengganu.
Di Johor , bagian kolong rumah panggung ini biasanya diberi pagar sebagai tempat penyimpanan barang dan populer disebut dengan nama rumah baju kurung. Dilasir dari id.wikipedia.org
Pembangunan Rumah Limas selalu berorientasi menghadap ke arah timur dan barat, sebuah tata letak yang berlandaskan falsafah perputaran matahari terbit dan terbenam. Struktur lantainya yang berundak bukan sekadar dekorasi, melainkan cerminan hierarki sosial yang mendalam berdasarkan nilai tradisional seperti faktor usia, jenis kelamin, bakat, pangkat, hingga martabat seseorang.
Secara psikologis dan sosial, pembagian ruang yang berlapis ini berfungsi sebagai pembatas aktivitas berdasarkan tingkat privasi penghuninya, sekaligus bentuk penghormatan tinggi masyarakat Palembang terhadap norma adat serta batasan antara laki-laki dan perempuan. Kompleksitas struktur ini ditopang oleh tiang-tiang kokoh dari kayu unglen atau ulin yang terkenal kuat dan tahan air, dengan rangka dari kayu seru, serta lantai, pintu, dan dinding yang terbuat dari kayu tembesu berkualitas.
Tingkatan lantai pada Rumah Limas dibagi menjadi lima jenjang utama dengan fungsi dan klasifikasi tamu yang berbeda-beda. Lantai pertama atau teras terdepan dinamakan pagar tenggalung, sebuah ruangan terbuka tanpa dinding penyekat menyerupai beranda yang biasa digunakan untuk menyambut tamu dalam suasana santai. Naik ke lantai kedua terdapat ruangan bernama jogan, yang areanya dikhususkan secara internal bagi anggota keluarga pemilik rumah yang berjenis kelamin laki-laki.
Selanjutnya, lantai ketiga atau kekijing tiga dipisahkan oleh penyekat khusus dan diperuntukkan sebagai tempat menerima undangan paruh baya atau kerabat dekat saat pergelaran hajatan. Sementara itu, lantai keempat yang disebut kekijing empat posisinya jauh lebih tinggi dan hanya boleh ditempati oleh para tamu yang memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat atau tokoh yang dihormati seperti sesepuh, dapunto, dan datuk.
Puncak tertinggi dari struktur Rumah Limas berada di tingkatan kelima yang disebut sebagai ruangan gegajah. Area yang paling sakral dan privat ini hanya boleh diakses oleh keluarga inti atau individu yang memiliki kedudukan paling terhormat di dalam silsilah keluarga. Di dalam ruang gegajah, terdapat sebuah undakan lantai khusus bernama amben yang difungsikan sebagai tempat bermusyawarah bagi para penghuni utama.
Selain itu, area tertinggi ini juga memuat kamar pengantin yang hanya dibuka dan digunakan apabila pemilik rumah sedang menyelenggarakan pesta pernikahan. Kemegahan seluruh ruangan ini kian lengkap berkat keberadaan jendela-jendela berukuran besar serta sentuhan seni pahat berupa ukiran tradisional yang menghiasi hampir setiap bagian dinding dan pintu rumah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....