Mengenal Tari Seudati: Tarian Enerjik dan Warisan Budaya Luhur dari Aceh
- 30 Jun 2026 07:48 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Tari Seudati merupakan salah satu tarian tradisional paling populer yang berasal dari Serambi Mekah, Aceh. Seni pertunjukan ini memiliki ciri khas yang sangat unik karena dibawakan secara enerjik oleh sekelompok penari pria tanpa menggunakan iringan alat musik eksternal sama sekali.
Sebagai gantinya, ritme tarian murni bersumber dari perpaduan lantunan syair liris serta kombinasi suara hentakan kaki, tepukan dada, dan petikan jari para penarinya. Dilansir dari id.wikipedia.org, karena keindahan dan daya tariknya yang luar biasa, tari Seudati kini sering dipentaskan dalam berbagai acara penting, mulai dari upacara adat, festival budaya, hingga panggung hiburan masyarakat.
Merujuk pada catatan sejarah, kesenian ini pertama kali tumbuh dan berkembang di Desa Gigieh, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, di bawah arahan Syeh Tam, sebelum akhirnya meluas ke wilayah Didoh dan seluruh pelosok Aceh. Pada masa awal perkembangannya, para tokoh agama memanfaatkan tari Seudati sebagai media dakwah yang efektif untuk menyebarkan ajaran agama Islam.
Memasuki masa penjajahan, pemerintah kolonial Belanda sempat melarang keras pementasan tarian ini karena syair-syair yang digelorakan dinilai mampu membakar semangat para pemuda Aceh untuk melakukan perlawanan. Beruntung setelah Indonesia merdeka, tarian ini kembali diizinkan untuk hidup dan bertransformasi menjadi seni pertunjukan yang sangat dicintai.
Secara filosofis, nama "Seudati" diyakini berakar dari kata "Syahadat", yang mencerminkan sebuah kesaksian atau pengakuan terhadap Tuhan dan Rasulullah dalam ajaran Islam. Nilai spiritual ini tertuang jelas dalam bait-bait syair yang dibawakan oleh dua orang pelantun khusus yang disebut aneuk syahi.
Dalam pertunjukannya, formasi tarian biasanya diisi oleh delapan penari pria utama yang memegang peran masing-masing, seperti seorang pemimpin (syeh), pembantu pemimpin, hingga jajaran pembantu biasa. Interaksi kompak antar-penari ini dipadukan dengan pola lantai yang dinamis, sehingga menghasilkan gerakan yang tangkas, cepat, sekaligus harmonis yang selalu sukses memukau mata penonton.
Demi menjaga kelestariannya sebagai warisan budaya takbenda, Pemerintah Aceh juga telah mengupayakan agar Tari Seudati mendapatkan pengakuan resmi di tingkat internasional melalui UNESCO. Salah satu keunikan yang diunggulkan adalah penggunaan tubuh penari itu sendiri sebagai instrumen musik utama melalui tepukan tangan ke dada dan perut.
Pesona tarian ini semakin diperkuat oleh busana adat khusus yang dikenakan para penari, yang terdiri dari setelan baju dan celana panjang ketat berwarna putih. Penampilan tersebut disempurnakan dengan kain songket di pinggang, senjata tradisional rencong yang disisipkan di bagian depan, serta ikat kepala (tangkulok) berwarna merah menyala yang melambangkan keberanian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....