Quiet Quitting, "Malas atau Cara Baru Bertahan di Dunia Kerja"
- 22 Apr 2026 18:42 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Fenomena quiet quitting belakangan ini jadi bahan obrolan di banyak tempat, terutama di kalangan pekerja muda. Istilah ini sering disalahartikan sebagai berhenti kerja diam-diam, padahal bukan itu maksudnya. Quiet quitting sebenarnya adalah memilih bekerja sesuai porsi tanpa memberi “lebih” secara berlebihan.
Banyak orang mulai mempertanyakan kenapa bekerja harus selalu identik dengan lembur dan tekanan tinggi. Tidak sedikit yang merasa tuntutan kerja saat ini sudah melewati batas wajar. Dari sinilah muncul keinginan untuk menarik garis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Di sisi lain, ada juga yang melihat fenomena ini sebagai bentuk kemalasan yang dibungkus alasan kesehatan mental. Karyawan yang tidak lagi “all out” dianggap kurang punya ambisi. Pandangan ini sering datang dari budaya kerja lama yang mengagungkan kerja keras tanpa batas.
Namun jika dilihat lebih dalam, quiet quitting sering kali berakar dari kelelahan yang menumpuk. Tekanan kerja yang terus-menerus bisa membuat seseorang kehilangan motivasi. Ketika usaha tidak terasa dihargai, wajar jika semangat perlahan menurun.
Bagi sebagian orang, ini bukan tentang malas, tetapi tentang bertahan. Mereka tetap menyelesaikan pekerjaan, hanya saja tidak ingin mengorbankan energi lebih dari yang diperlukan. Ini menjadi cara untuk menjaga diri agar tidak mengalami kelelahan mental yang lebih parah.
Perubahan pola pikir generasi muda juga punya peran besar dalam fenomena ini. Banyak yang mulai melihat bahwa hidup bukan hanya soal pekerjaan. Waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan kesehatan mental kini dianggap sama pentingnya.
| Baca juga: Masa Kecil yang Penuh Warna |
Fenomena ini secara tidak langsung menantang perusahaan untuk berbenah. Jika banyak karyawan merasa perlu “menarik diri”, mungkin ada yang perlu diperbaiki dalam sistem kerja. Lingkungan kerja yang sehat menjadi kunci agar karyawan tetap terlibat tanpa merasa tertekan.
Meski begitu, penting juga untuk tidak menyalahartikan quiet quitting. Bekerja secukupnya bukan berarti bekerja asal-asalan atau mengabaikan tanggung jawab. Profesionalisme tetap menjadi hal utama yang harus dijaga.
Pada akhirnya, quiet quitting membuka diskusi yang lebih luas tentang cara kita memandang pekerjaan. Apakah bekerja harus selalu menguras seluruh energi, atau bisa dijalani dengan lebih seimbang. Jawabannya mungkin berbeda untuk setiap orang, tetapi yang jelas, keseimbangan menjadi hal yang semakin dicari. (DEP/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....