Kisah Sahroni, Pelopor Odong-odong di Kalibaru Cilincing

  • 05 Jul 2026 19:06 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kisah Pak Sahroni menjadi bukti bagaimana sebuah ide sederhana bisa berkembang menjadi bisnis yang menghidupi banyak orang,

RRI. CO. ID, Jakarta - Industri hiburan rakyat "odong-odong" di kawasan Kalibaru dan Cilincing, Jakarta Utara, ternyata memiliki sejarah panjang yang penuh dengan dinamika sosial. Sahroni (45), salah satu pionir yang mulai menggerakkan usaha ini sejak tahun 2014, membagikan kisahnya dalam mengelola moda transportasi hiburan yang kini menjadi ikon di wilayah tersebut.

Kisah ini diambil, hari Minggu, 5 Juli 2026. Berawal dari Roda Tiga

Ide bisnis ini muncul secara mandiri dari pemikiran Sahroni untuk mencari penghasilan tambahan. Awalnya, ia menggunakan kendaraan roda tiga (Viar dan Nozomi) yang dimodifikasi menjadi tempat duduk untuk anak-anak. Dengan sistem setoran kepada pemilik kendaraan sebesar Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per hari, Sahronia mulai berkeliling menjajakan hiburan bagi anak-anak di wilayah Cilincing.

Konflik Panas dengan Sopir Angkot

Perjalanan Sahronia tidak selalu mulus. Di masa awal, terjadi gesekan keras dengan para sopir angkutan kota (angkot). Para sopir angkot merasa lahan mereka terancam karena mengira odong-odong mengangkut penumpang umum yang hendak ke pasar atau berbelanja.

"Dulu sering sekali terjadi bentrok, mulai dari adu mulut sampai pukul-pukulan. Setiap kali berpapasan, situasinya panas karena belum ada pembagian jalur yang jelas," kenang Sahroni kepada RRI Jakarta.

Perselisihan tersebut akhirnya berujung pada mediasi di kantor Kelurahan setempat. Melalui diskusi dengan dewan kelurahan, lahirlah kesepakatan (MoU) yang mengatur jalur operasional. Odong-odong dilarang melewati jalur utama angkot demi menjaga kondusivitas antar pengemudi.

Inovasi Kereta Panjang

Seiring berjalannya waktu, Sahronia melakukan inovasi besar pada tahun 2016. Ia mulai merakit sendiri "Kereta Panjang" atau kereta gandeng yang ditarik oleh sepeda motor yang dimodifikasi.

Untuk membangun satu unit kereta panjang dengan empat gandengan, Sahronia merogoh kocek sekitar Rp17 juta hingga Rp18 juta. Inovasi ini membuahkan hasil manis; di masa kejayaannya, ia mampu meraup penghasilan hingga Rp 500.000 dalam sehari.

Tarif dan Rute Saat Ini

Hingga kini, tarif odong-odong di kawasan tersebut masih tergolong sangat terjangkau, yakni Rp 3.000 untuk anak-anak dan Rp 5.000 untuk penumpang dewasa.

Terdapat perbedaan rute berdasarkan jenis armada. Odong-odong jenis mobil atau roda tiga memiliki jangkauan yang lebih luas, mulai dari Marunda, Semper, hingga kawasan Kota Tua dan Taman Joglo. Sementara itu, untuk unit kereta panjang, operasionalnya difokuskan pada wilayah internal Kalibaru dan Cilincing sesuai kesepakatan jalur yang telah ditetapkan.

Kisah Pak Sahroni menjadi bukti bagaimana sebuah ide sederhana bisa berkembang menjadi bisnis yang menghidupi banyak orang, sekaligus memberikan hiburan murah bagi masyarakat di tengah keterbatasan ruang terbuka di ibu kota.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....