Pantang Menyerah! Kisah Gembong, Nelayan Tangguh yang Melaut dengan Kaki Palsu

  • 28 Jun 2026 14:19 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, JAKARTA – Di balik riuhnya deburan ombak dan kerasnya kehidupan di pesisir Jakarta, tersimpan kisah perjuangan seorang nelayan bernama 8, atau yang akrab disapa Mang Gembong (41). Meski harus kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan kerja belasan tahun silam, semangatnya untuk melaut tidak pernah surut.

Mang Gembong merupakan nelayan berpengalaman yang sudah turun ke laut sejak usia 10 tahun. Kecintaan dan ketergantungannya pada laut bermula dari profesi orang tuanya yang juga merupakan nelayan. Namun, garis hidup berkata lain pada tahun 2005.

Saat itu, Mang Gembong sedang bekerja memotong besi kapal yang karam di kawasan Marunda. Nahas, kecelakaan terjadi yang melibatkan seling (kabel baja) hingga mengakibatkan kaki kanannya luka parah. Setelah dilarikan ke RS Koja dan kemudian dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dokter memutuskan bahwa kaki kanannya harus diamputasi karena kondisi saraf yang sudah hancur.

"Waktu itu anak saya baru satu. Perasaan hancur pasti ada, tapi saya tidak pernah kapok jadi nelayan karena memang usaha kita di laut," kenang Mang Gembong saat diwawancarai RRI Jakarta, Sabtu 27 Juni 2026.

Luar biasanya, hanya enam bulan setelah operasi amputasi, Mang Gembong sudah kembali melaut meski belum memiliki kaki palsu. Ia menggunakan perahu kecil dan alat serok untuk mencari kerang hijau demi menafkahi keluarganya.

Baru pada tahun 2006, ia mendapatkan bantuan kaki palsu dari sebuah yayasan asal India setelah membaca informasi di surat kabar. Hingga saat ini, ia telah memiliki dua kaki palsu dari yayasan yang sama, karena salah satunya tidak bisa digunakan untuk menyelam akibat risiko korosi atau karatan.

Meski memiliki keterbatasan fisik, perhatian pemerintah dirasa masih sangat minim. Hingga kini, bantuan kaki palsu yang ia miliki murni berasal dari pihak swasta/yayasan luar negeri. Terkait bantuan sosial, Mang Gembong mengaku menerima Kartu Disabilitas dari Pemerintah Provinsi dengan tunjangan sekitar Rp300.000 per bulan.

"Kalau dibilang cukup ya kurang, Rp300 ribu per bulan. Tapi ya mau bagaimana lagi," ujarnya dengan nada pasrah namun tetap tegar.

Hingga hari ini, Mang Gembong tetap aktif sebagai nelayan kerang hijau. Sosoknya menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk terus berjuang dan bekerja keras demi keluarga. Kisahnya diharapkan dapat membuka mata banyak pihak akan pentingnya dukungan yang lebih layak bagi para penyandang disabilitas, khususnya mereka yang bekerja di sektor informal seperti nelayan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....