Kisah Nelayan Pesisir Jakarta, Menjaga Laut yang Kian Menyempit
- 23 Mei 2026 15:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kehidupan nelayan di pesisir laut Jakarta Utara.
- Ketenangan nelayan kini perlahan tergeser pembangunan kawasan industri dan pelabuhan besar.
PAGI di pesisir Cilincing selalu dimulai suara mesin kapal dan debur ombak laut. Namun, ketenangan nelayan kini perlahan tergeser pembangunan kawasan industri dan pelabuhan besar.
Di Kalibaru dan Marunda, kapal-kapal raksasa hilir mudik hampir sepanjang hari. Laut yang dahulu ramah kini dipenuhi reklamasi dan proyek strategis nasional.
Di tengah perubahan itu, Muhammad Tahir tetap berdiri menyuarakan nasib nelayan tradisional Jakarta Utara. Ketua Paguyuban Nelayan Cilincing ini menjadi wajah perjuangan masyarakat pesisir.
Bagi Tahir, laut bukan sekadar hamparan air tempat mencari ikan setiap hari. Laut adalah ruang hidup yang membesarkan keluarga dan menjaga tradisi nelayan turun-temurun.
“Nelayan sebenarnya tidak anti pembangunan, kami paham negara sedang membangun. Tapi jangan sampai pembangunan mematikan kehidupan nelayan yang sudah lama hidup di sini,” kata Tahir kepada RRI, di lokasi, Jumat, 22 Mei 2026.

Ia mengingat, masa ketika nelayan cukup mendayung beberapa ratus meter dari bibir pantai. Di mana air laut masih jernih dan ikan mudah ditemukan di sekitar pesisir.
Kini, nelayan harus berlayar lebih jauh demi mendapatkan hasil tangkapan yang layak dijual. Perjalanan melaut semakin berat dengan biaya operasional yang terus meningkat.
Nelayan bahkan harus melaut hingga beberapa mil ketika kondisi air sedang keruh. “Sekarang kami harus mutar jauh dulu,” ucap Tahir seraya memandang laut Cilincing.
Bahan bakar menjadi kebutuhan paling berat bagi nelayan kecil pesisir Jakarta Utara. Sementara hasil tangkapan justru terus berkurang akibat sempitnya area tangkap ikan.
Tahir juga melihat persoalan lain yang jarang diperhatikan banyak pihak selama pembangunan berlangsung. Sebagian besar nelayan masih menambatkan perahu di muara sungai yang dangkal.
Saat musim barat datang, sedimen menutup akses keluar masuk kapal nelayan. Kondisi itu membuat aktivitas melaut sering terhenti selama beberapa hari.
“Kalau musim barat datang, muara pasti tertutup sedimen. Itu sebabnya pembangunan pelabuhan nelayan sangat mendesak untuk kami,” ujar Tahir.
Bagi Tahir, pelabuhan nelayan bukan hanya tempat bersandar perahu setelah melaut. Ia membayangkan kawasan ekonomi pesisir yang hidup dan memberi manfaat besar.
Ia berharap tersedia pelelangan ikan, cold storage, hingga pusat aktivitas ekonomi masyarakat nelayan. Menurutnya, fasilitas itu penting agar nelayan mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.
Selain pelabuhan, nelayan juga membutuhkan alat tangkap dan kapal yang lebih modern. Area tangkap yang semakin jauh memaksa nelayan menyesuaikan kemampuan melaut mereka.
Ia juga meminta akses BBM subsidi dipermudah bagi nelayan kecil. “Kalau area tangkap makin jauh, alat tangkap dan kapal harus menyesuaikan,” katanya.
Meski tekanan pembangunan semakin besar, Tahir memilih memperjuangkan dialog daripada konflik terbuka. Ia percaya solusi masih bisa dicari bersama pemerintah dan pengembang kawasan.
Di mata para nelayan, Tahir bukan sekadar ketua paguyuban yang menyampaikan aspirasi masyarakat pesisir. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan juga harus menjaga ruang hidup nelayan tradisional.
Kini, laut yang dahulu dekat terasa semakin jauh bagi masyarakat pesisir Jakarta Utara. Namun, Tahir tetap menjaga harapan agar nelayan tidak hilang bersama pembangunan kota.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....