Potret Nelayan Cilincing, Melawan Ombak dan Harga Solar
- 09 Mei 2026 18:37 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA - Matahari baru saja naik sedikit di ufuk timur, namun Pak Dalim sudah bersiap di atas kapalnya yang bersandar di tepian kali Cilincing. Bagi pria paruh baya ini, laut adalah satu-satunya pemberi harapan.
Namun belakangan, harapan itu terasa makin jauh untuk dijangkau, bukan karena ombak yang semakin besar, melainkan karena harga solar yang kian mencekik.
Pak Dalim adalah satu dari sekian banyak nelayan tradisional di pesisir Jakarta Utara yang menggantungkan hidup pada cumi dan udang. Namun, rutinitas melautnya kini dibayangi hitungan matematika yang rumit.
"Biasanya kita beli satu jerigen isi 35 liter itu 280 ribu (rupiah), sekarang sudah 350 ribu," ujar Pak Dalim ketika ditemui RRI Jakarta, Sabtu 9 Mai 2026.
Selisih 70 ribu rupiah mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang, namun bagi nelayan kecil, angka itu adalah taruhan nyawa di meja makan. Dalam satu hari melaut, kapalnya setidaknya membutuhkan 60 hingga 70 liter solar.
Dengan kenaikan harga solar non-subsidi, biaya operasionalnya melonjak tajam, sementara hasil tangkapan tak pernah bisa dipastikan.
Masalah Pak Dalim tak berhenti di harga BBM. Ia bercerita dengan nada gusar tentang kondisi air di pesisir yang kian tercemar limbah. Hal ini memaksa para nelayan untuk melaut lebih jauh ke tengah, yang secara otomatis memakan lebih banyak bahan bakar.
"Dampak limbah air itu nyata. Kita jadi harus agak ke tengah lagi (melaut). Padahal perbekalan makin besar," keluhnya.
Jika biasanya dalam sehari ia bisa membawa pulang Rp1 juta, kini angka itu seringkali tergerus habis untuk menutup modal bahan bakar dan perbekalan.
Ironisnya, di tengah kepungan kesulitan ini, bantuan subsidi solar dari pemerintah belum mampir ke tangannya. Pak Dalim mengaku masih bergelut dengan urusan administrasi dan surat-menyurat agar bisa mendapatkan akses BBM bersubsidi. Sebuah birokrasi yang baginya terasa sama rumitnya dengan menembus badai di tengah laut.
Harapan Pak Dalim sederhana, sesederhana senyumnya yang sesekali muncul di sela-sela cerita getirnya. Ia hanya ingin harga solar kembali normal, agar mesin kapalnya bisa terus menderu tanpa ia harus cemas memikirkan sisa uang untuk keluarga di rumah.
Di tengah bau amis laut dan deru mesin kapal yang kian mahal, Pak Dalim dan nelayan Cilincing lainnya terus bertahan. Mereka adalah para pejuang protein bangsa yang kini sedang terombang-ambing di atas gelombang ketidakpastian ekonomi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....