Mengetahui Kebohongan Melalui Statement Analysis, Kata Pakar

  • 23 Jan 2026 22:26 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Sebagian besar orang terlahir mampu mengenal beragam macam kebohongan, di tingkat tertentu. Melalui berbagai pengalaman dan budaya yang dihadapinya. Sosok Mark McClish yang memiliki pengalaman sebagai Investigator dan Trainer di US Marshals Service Training pernah mempublikasi sebuah buku yang membahas analisis kebohongan melalui kanal verbal.

Salah satunya dia menceritakan tentang studi kasus klasik sebuah teror pengeboman “Bangunan Federal The Alfred P. Murrah” pada 19 April 1995. Tepatnya di Oklahoma, United States diguncang oleh aksi terorisme domestik paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

Sisi depan gedung setelah bomnya meledak di Oklahoma, United States (Foto: businessinsider.com/James Pasley)

Dilansir dari okhistory.org - Tragedi memilukan terjadi di Gedung Federal Alfred P. Murrah ketika sebuah bom truk seberat 4800 pon meledak, menewaskan 168 korban jiwa, termasuk 19 anak-anak dan melukai lebih dari 850 orang lainnya. Aksi teror ini didalangi oleh Timothy McVeigh, seorang veteran Perang Teluk yang melampiaskan dendam dan sentimen anti-pemerintahnya melalui serangan tersebut.

Namun yang menariknya adalah McVeigh divonis bersalah oleh pengadilan ketika setelah hampir dua tahun lamanya dari peristiwa tragis itu terjadi. Timothy McVeigh disidangkan. Ia didakwa di pengadilan federal pada tanggal 2 Juni 1997, pengadilan menjatuhkan vonis bersalah.

Begitu lamanya investigasi dan pengadilan dalam membuat kesimpulan. Beda halnya dengan Mark McClish, dia hanya perlu dua bulan setelah peristiwa itu, telah berhasil menguliti dan mengamati kejanggalan tersangka McVeigh melalui analisisnya terhadap Talkshow Televisi.

Mengutip dari bukunya yang berjudul “I Know You Are Lying: Detecting Deception Through Statement Analysis (2001)” ada banyak indikator potensi kebohongan yang dicatatnya. Jadi dua bulan setelah peristiwa tragis itu, McVeigh menjalani sesi talkshow dengan media Newsweek, menceritakan dari sisi ceritanya sendiri, bukan laporan dari sisi penegak hukum atau FBI. Dilanjutkan juga analisis McClish pada talkshow setelah sebelas bulan dengan media TIME.

Singkat cerita ditemukanlah dalam dua talkshow di dua sesi media berbeda itu adanya beberapa frase, kalimat, atau kata-kata yang terindikasi kebohongan berdasarkan keilmuan neuropsikolinguistik. Yakni indikator Lies of Omission RTA (Refuse to Accept), DTA (Denial the Action), SD (Self-Deprecation), dan indikator Lies of Influence OSA (Overly Specific Answer).

Pertama, Refuse to Accept (RTA). Sebuah jawaban yang menyembunyikan informasi atau ketidaknyaman dirinya adalah “Saya lebih baik tidak menjawab itu.Transkrip wawancara McVeigh, Jones (pengacaranya), dan presenter dari media Newsweek dalam bukunya McClish

Kedua, Denial the Action (DTA). Sebuah jawaban menolak tuduhan dengan pernyataan yang berbeda dengan objek pertanyaaan. Padahal dirinya hanya dilemparkan pertanyaan Ya atau Tidak. Ketiga, Self Deprecation (SD). Sebuah jawaban berupaya merendahkan diri sendiri agar tampak tidak mampu melakukan tindakan yang dituduhkan.

Transkrip wawancara McVeigh, dan presenter dari media Newsweek & media TIME dalam bukunya McClish

Keempat, Overly Specific Answer (OSA). Sebuah pola Lies of Influence jawaban panjang yang bermotif untuk mempengaruhi pihak penanya agar mengikuti alur pikirannya.

Transkrip wawancara McVeigh dan presenter dari media TIME dalam bukunya McClish

Vonis bersalah yang dijatuhkan pengadilan sebenarnya sudah diprediksi banyak pihak. Menurut Mark McClish, bukti fisik dan keterangan saksi mata yang kuat membuat keputusan tersebut tidak mengejutkan. Namun, di luar bukti fisik, metode Statement Analysis pun secara independen mengonfirmasi keterlibatan McVeigh melalui analisis pola verbalnya.

Sikap McVeigh yang terus menghindar dari berbagai pertanyaan mengindikasikan adanya fakta yang sengaja ia sembunyikan. Namun, petunjuk paling fatal adalah ketiadaan penyangkalan tegas. Ia sama sekali tidak pernah mengucapkan kalimat sederhana namun krusial: "Saya tidak melakukannya."

Hal senada juga disampaikan oleh praktisi dan trainer Statement Analysis asal Indonesia, Dr. Guruh Taufan Hariyadi. Menurutnya, metode ini sangat powerful dan bukan sekadar alat untuk memaksa orang mengakui perbuatannya.

Dr. Guruh Taufan Hariyadi tengah memberikan training Statement Analysis (Foto: deteksikebohongan.com/guruh)

"Statement Analysis ini bukan untuk membuat orang mengakui, namun digunakan untuk mengidentifikasi petunjuk-petunjuk yang dapat menuntun kita kepada barang bukti," ujar Guruh di Semarang melalui telepon pada 23 Januari 2026.

Ia menjelaskan bahwa dalam Statement Analysis, terdapat 23 macam indikator yang digunakan untuk mengupas kalimat atau kata-kata. Guruh mengibaratkan indikator-indikator ini semacam “pisau bedah” yang digunakan untuk membedah informasi yang memiliki makna tersembunyi.

Sejarah Panjang dan Validitas Ilmiah. Menanggapi pandangan skeptis yang menyebut metode ini sebagai pseudoscience (ilmu semu), Guruh menegaskan bahwa fakta membuktikan metode ini telah digunakan secara resmi di level internasional.

"Sejak 1994 metode ini digunakan di FBI untuk mengungkap kasus-kasus Federal. Meskipun secara keseluruhan Statement Analysis memang tidak sepopuler Forensic Linguistic, karena ia bekerja di balik layar sebagai alat pencari barang bukti, bukan sebagai barang bukti itu sendiri," katanya.

Lebih lanjut, Guruh memaparkan sejarah panjang keilmuan ini. Berasal dari Jerman Barat, metode ini diciptakan oleh Udo Undeutsch, seorang psikolog pada tahun 1954. Saat itu, teknik ini pertama kali digunakan untuk mengungkap kasus pedofil yang melibatkan 14 korban anak-anak hingga pelakunya terungkap.

Pencipta Teknik Statement Analysis asal Jerman, Udo Undeutsch

Kemudian tahun 1988, ilmu ini dipelajari oleh Kolonel Avinoam Sapir dari Kepolisian Israel, kemudian dibawa ke Amerika Serikat dan dikembangkan dengan nama SCAN (Scientific Content Analysis). Di United States, metode ini berkembang pesat dan diadopsi FBI sejak 1994 lewat Susan H. Adams, seorang dosen dan agen FBI yang melatih komunikasi investigatif. Di dalam negeri kita sendiri, Dr. Guruh Taufan Hariyadi mengembangkannya menjadi model "Statement Analysis Indonesia" yang telah menysesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia dan diberikannya 23 indikator.

Konsep Baseline dan Relevansi Spiritual. Salah satu kunci dalam analisis ini adalah Base-line. Guruh menjelaskan bahwa base-line adalah patokan awal untuk mengukur kondisi normal seseorang, seperti kecepatan bicara atau nada dasar.

"Ketika terjadi penambahan kecepatan atau berubah nada bicara dari base-line, maka terjadi perubahan perilaku yang menjadi petunjuk," ujarnya.

Menariknya, Guruh juga mengaitkan konsep ini dengan nilai spiritual. Ia mengutip Al Quran Surah Muhammad Ayat 30 yang berbunyi: "Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya."

Siapa yang bisa mempelajari? Meskipun saat ini pesertanya banyak berasal dari kalangan Polri, TNI, hakim, dan jaksa. Guruh menyebut penyebaran ilmu ini masih tergolong lambat di Indonesia. Padahal, ilmu ini bersifat universal.

"Ilmu ini dapat dikuasai oleh siapa saja, terutama yang berkecimpung di dunia interview seperti auditor, advokat, guru atau dosen, aparat penegak hukum, hingga HRD. Bahkan dapat dipelajari secara mandiri oleh ibu rumah tangga," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....