Siklus Hijau Kelurahan Tangki: Sulap Limbah Sayur Jadi Pakan Ternak

  • 23 Jun 2026 16:19 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Kelurahan Tangki, Jakarta Barat, terus berinovasi dalam mengelola program urban farming dengan mengedepankan konsep zero waste atau bebas sampah. Tidak hanya fokus pada penanaman sayur, kelurahan ini berhasil membangun ekosistem pertanian perkotaan yang terintegrasi antara tanaman, peternakan, dan pengelolaan limbah.

Lurah Tangki Taufik menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam pertanian kota adalah penumpukan sisa hasil panen. Untuk mengatasinya, pihak kelurahan mengolah limbah sayuran menjadi pakan ternak.

"Kami tidak ingin sisa-sisa tanaman sayur itu terbuang menjadi sampah. Solusinya, limbah tersebut dihaluskan dan dicampur dengan dedak untuk dijadikan pakan ayam. Kami sudah mencobanya dan berhasil, ayam-ayam di sini mau memakannya," ujar Pak Lurah kepada RRI Jakarta, Senin 22 Juni 2026.

Sirkular Ekonomi di Lahan Sempit

Saat ini, Kelurahan Tangki memiliki peternakan ayam skala kecil sebagai proyek percontohan, serta kolam ikan yang diisi dengan jenis Mujaer dan Lele. Menariknya, sistem ini menciptakan sirkulasi yang saling menguntungkan: limbah sayur menjadi pakan ayam, dan kotoran ayam diolah kembali menjadi pupuk kandang untuk tanaman sayuran mereka.

"Jadi sirkulasinya ada. Apa yang dihasilkan dari bumi, kembali lagi ke bumi dalam bentuk nutrisi bagi tanaman," tambahnya.

Kolaborasi Lintas Kelurahan dan Kepercayaan Warga

Keberhasilan Kelurahan Tangki dalam membangun pasar urban farming juga mulai dirasakan oleh kelurahan lain. Kelurahan Tangki kini menjadi wadah pemasaran bagi hasil tani dari daerah sekitarnya, seperti Kelurahan Krukut, jika mereka mengalami kesulitan dalam menjual hasil panennya.

"Kami siap bantu pasarkan. Karena di Kelurahan Tangki, kami sudah punya pangsa pasar yang terbentuk melalui komunitas warga di grup WhatsApp. Begitu ada stok sayur, warga langsung rebutan pesan," jelas Pak Lurah.

Warga Kelurahan Tangki sendiri lebih memilih membeli sayuran hasil urban farming setempat meski harganya terkadang sedikit di atas pasar tradisional. Hal ini dikarenakan adanya jaminan kualitas dan kesehatan.

"Warga percaya karena air yang digunakan di sini bersih, bukan air sembarangan. Selain itu, hasil sayuran kami juga rutin dipantau dan dicek oleh Dinas KPKP (Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian) untuk memastikan keamanannya," pungkasnya.

Inovasi yang dilakukan Kelurahan Tangki ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan di Jakarta bukan hanya soal menanam, tetapi juga soal kreativitas mengelola ekosistem yang berkelanjutan dan bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....