Harga Emas Picu Tingkat Inflasi di Sulsel

  • 17 Mar 2026 16:38 WIB
  •  Makassar
Poin Utama
  • Inflasi
  • Emas

RRI.CO.ID,Makassar - Angka inflasi di Sulawesi Selatan jelang ebaran menyentuh level 6,13 persen secara tahunan (year on year). Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka ini menempatkan Sulawesi Selatan dalam jajaran 10 besar daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Indonesia, sebuah kondisi yang jarang terjadi sebelumnya bagi provinsi yang biasanya memiliki stabilitas harga terjaga.

“hasil penilaian tingkat inflasi Sulawesi Selatan oleh BPS kemarin, memang ada pada jatuh pada angka 6,13% year on year, Jadi, data dibandingkan data terakhir Februari dengan 2026 dibandingkan terhadap data Februari yang sama pada tahun 2025,” Kata Analis Kebijakan Ahli Madya Pada Biro Perekonomian Dan Administrasi Pembangunan Setda Prov. Sulsel, Hijir Ismail A. Rasyad, kepada RRI Selasa, 17 Maret 2026.

Dikatakan pemicu utama lonjakan inflasi ini bukanlah bahan pangan pokok, melainkan kenaikan harga emas perhiasan yang sangat signifikan. Ia menjelaskan harga emas yang kini menembus angka Rp3 juta per gram telah mendorong masyarakat untuk berinvestasi secara masif di sektor ini daripada menyimpan uang di bank.

“Jadi, kelihatannya ini kan peningkatan harga ini dipicu oleh peningkatan harga emas perhiasan, yang tinggi sekali, Bayangkan saja sampai sekarang itu kan masyarakat kita lebih banyak berinvestasi ke situDia menyimpan uang, di dalam bentuk emas karena ini menjanjikan tingkat keuntungan gitu dalam waktu-waktu ke depan,” terangnya.

Selain faktor emas, hilangnya subsidi listrik dari pemerintah pusat juga memberikan andil terhadap kenaikan angka inflasi. Penyesuaian tarif listrik tanpa subsidi ini mengakibatkan adanya peningkatan biaya pengeluaran rumah tangga yang cukup signifikan di wilayah Sulawesi Selatan. Hal ini menambah beban persentase inflasi di samping faktor komoditas musiman seperti cabai rawit yang harganya fluktuatif akibat cuaca.

“Yang kedua, kita juga dipengaruhi oleh adanya subsidi listrik yang lalu, Dulu kan itu kan beberapa waktu yang lalu kita ada subsidi listrik pemerintah, sekarang setelah tidak ada itu kan ada peningkatan harga yang cukup signifikan kan karena hilangnya nilai subsidi itu naik sekitar 10% lebih lah,” tambahnya.

Kondisi cuaca buruk juga turut mempengaruhi ketersediaan stok ikan di pasar. Intensitas hujan yang tinggi membuat para nelayan ragu untuk melaut, sehingga pasokan komoditas hasil laut menjadi terbatas. Kelangkaan stok ini secara otomatis mengerek naik harga perikanan di pasar-pasar lokal, meski secara umum harga bahan pangan lainnya masih relatif terkendali.

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong atau panic buying. . Analis Kebijakan Ahli Madya Pada Biro Perekonomian Dan Administrasi Pembangunan Setda Prov. Sulsel menekankan bahwa psikologi pasar sangat berpengaruh terhadap stabilitas harga. Jika masyarakat membeli barang dalam jumlah yang tidak wajar, hal tersebut justru akan semakin mendorong kenaikan inflasi di masa mendatang.

"Sebagai langkah konkret, pemerintah telah meluncurkan Gerakan Pangan Murah secara serentak di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Program ini bertujuan untuk memberikan akses harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan strategis mereka, terutama menjelang perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Nyepi."bebernya

Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau jalur distribusi pangan agar tetap lancar tanpa hambatan. Tim pengawas dari Biro Perekonomian telah diterjunkan ke berbagai daerah, mulai dari Bantaeng hingga Parepare, untuk memastikan tidak ada permainan harga di tingkat distributor. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat guna memastikan Sulawesi Selatan kembali ke kondisi ekonomi yang stabil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....