Google Cloud Fokus pada Manfaat Nyata AI bagi Bisnis

  • 17 Jul 2026 21:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Google Cloud menilai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia sudah memasuki tahapan baru. Perusahaan kini mendorong organisasi untuk tidak lagi hanya bereksperimen, tetapi menggunakan AI guna menyelesaikan persoalan bisnis sehari-hari.

Country Director Google Cloud Indonesia Karim Siregar mengatakan perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya adopsi AI untuk mendukung operasional perusahaan. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Media Briefing Google Cloud di Jakarta, Rabu 15 Juli 2026.

"Sekarang bukan lagi kita harus melakukan eksperimen-eksperimen, tapi bagaimana menggunakan AI untuk hal-hal yang kita bisa hadapi sehari-hari dan memecahkan masalah kita sehari-hari dengan menggunakan AI," kata Karim. Menurutnya, setiap perusahaan perlu mencari area bisnis yang paling berpotensi memperoleh manfaat langsung dari penerapan AI.

Google Cloud memperkirakan implementasi AI dan layanan cloud dapat menciptakan nilai ekonomi sekitar Rp200 triliun di Indonesia. Nilai tersebut bukan berupa pendapatan perusahaan, melainkan manfaat ekonomi yang berasal dari peningkatan efisiensi, pengurangan penipuan (fraud), pengelolaan risiko yang lebih baik, serta peningkatan produktivitas.

Berdasarkan paparan perusahaan, peningkatan produktivitas pekerja sebesar 4,4 persen setara dengan penghematan sekitar 1,1 jam kerja setiap pekan untuk setiap pekerja. Jika diakumulasikan secara nasional, efisiensi itu diperkirakan mencapai sekitar 350 juta jam kerja dalam setahun.

Google Cloud juga menyebut AI mulai memberikan dampak pada kinerja bisnis di berbagai fungsi. Penggunaan AI agent pada layanan pelanggan diperkirakan mampu meningkatkan return on investment (ROI) hingga 1,2 kali, sementara pada business development mencapai 1,3 kali dan business intelligence hingga 1,6 kali.

Di sisi lain, perusahaan menegaskan bahwa perlindungan data tetap menjadi syarat utama dalam adopsi AI. Vice President of Technology and Customer Engineering APAC Google Cloud Moe Abdula menegaskan data pelanggan tidak akan digunakan untuk melatih model AI milik Google.

"Dan kami berkomitmen tidak akan pernah menggunakan informasi apa pun untuk melatih model kami sendiri," ujar Moe. Ia juga memastikan data sensitif maupun data berdaulat (sovereign data) tetap berada di bawah kendali pemiliknya dan tidak dipindahkan dari yurisdiksi yang telah ditentukan.

Menurut Moe, perkembangan AI juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menemukan celah keamanan dengan lebih cepat. Karena itu, Google Cloud menggabungkan berbagai layanan keamanan seperti Wiz, Security Command Center, dan Mandiant agar pelanggan dapat mendeteksi, memprioritaskan, serta menangani ancaman siber secara lebih efektif.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem AI, Google secara global telah mengalokasikan investasi sebesar US$750 juta melalui program Forward Deployed Engineer. Program ini menempatkan tenaga ahli Google untuk bekerja langsung bersama pelanggan dalam merancang dan menerapkan solusi AI yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing organisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....