Pengelola Tahu Bertahan, Kedelai Tembus Rp10.800/Kg
- 18 Apr 2026 15:55 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Kenaikan harga bahan baku kedelai mulai mencekik para perajin tahu di ibu kota. Di salah satu pabrik tahu di Kelurahan Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, kenaikan harga kedelai impor dirasakan sangat signifikan dan berdampak langsung pada biaya produksi serta harga jual ke konsumen.
Pak Sugeng (42), pengelola pabrik, mengungkapkan bahwa harga kedelai telah melonjak dari angka Rp9.300 menjadi Rp10.800 per kilogram. Kenaikan ini dirasakan mulai terjadi sejak sebelum bulan Ramadan lalu, yang menurutnya dipicu oleh situasi geopolitik global, termasuk dampak perang Rusia-Ukraina.
"Kacang (kedelai) naik terus, sekarang sudah Rp10.800 per kilo. Efeknya berasa banget, apalagi sejak mulai perang itu," ujar Sugeng saat ditemui di lokasi produksinya.
Menghadapi kenaikan bahan baku serta tingginya biaya listrik dan air, pihak pengelola terpaksa menaikkan harga jual tahu sebesar kurang lebih 5 persen. Jika sebelumnya satu saringan tahu dijual seharga Rp160.000, kini harganya naik menjadi Rp170.000.
Kenaikan ini menjadi dilema tersendiri bagi para pedagang dan pelanggan. Sugeng menjelaskan bahwa menjaga ketebalan tahu menjadi tantangan ketika harga bahan baku melambung. "Kalau tidak dinaikkan harganya, ya tidak bisa bayar air dan listrik. Tapi kalau terlalu tipis, pelanggan juga komplain karena sudah langganan," tambahnya.
Melalui kesempatan ini, Sugeng mewakili para perajin tahu berharap agar pemerintah dapat turun tangan menstabilkan harga kedelai. Menurutnya, harga di bawah Rp10.000 per kilogram adalah angka yang ideal agar ekosistem bisnis tahu rumahan dapat berjalan dengan sehat.
"Harapannya harga kedelai bisa stabil lagi seperti dulu. Tidak perlu murah sekali, tapi standarnya di bawah Rp10.000 lah, supaya pedagang di pasar juga jualnya enak dan ukurannya bisa pantas," harapnya.
Di sisi lain, pabrik ini juga menunjukkan upaya pengelolaan limbah yang baik. Limbah padat berupa ampas tahu tidak dibuang begitu saja, melainkan dijual kembali sebagai bahan baku pembuatan oncom atau pakan ternak. Ampas tahu dijual seharga Rp15.000 per karung (setara dengan hasil tiga saringan).
Meskipun bekerja di lingkungan yang penuh asap dari pembakaran kayu, Sugeng mengaku selama ini para pekerja tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti. Pabrik yang telah beroperasi selama 8 tahun ini terus berupaya bertahan di tengah himpitan ekonomi dan berharap adanya perhatian lebih bagi industri kecil menengah (IKM) pangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....