Eksplorasi Isu Sosial Kapuas Hulu lewat Pameran Seni Inaya Kayan
- 16 Jul 2026 20:04 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Program Art Studies inisiasi komunitas Inaya Kayan menghadirkan belasan seniman muda Kalimantan Barat untuk mengeksplorasi isu-isu lingkungan secara langsung di pedalaman Kapuas Hulu selama empat hari.
- Para seniman muda, termasuk ilustrator Mara dan Dustin, mengalami transformasi pembelajaran kritis yang melampaui aspek visual, menemukan fakta-fakta lapangan kompleks seperti pembabatan hutan dan kerentanan posisi perempuan adat.
- Pameran seni lintas medium berjudul 'Kisah-Kisah dari Hulu' akan dipresentasikan secara gratis pada 17-19 Juli 2026 di Rumah Budaya Caping Pontianak, menampilkan arsip pembelajaran, karya digital, rekaman audio, dan tulisan dari ekspedisi.
RRI.CO.ID, Pontianak - Kedekatan langsung dengan masyarakat adat rupanya mampu memberikan ruang tumbuh yang luar biasa bagi para pelaku seni kreatif. Lewat program Art Studies inisiasi komunitas Inaya Kayan, belasan seniman muda Kalimantan Barat membedah langsung isu-isu lingkungan di pedalaman Kapuas Hulu. Hasil penjelajahan tersebut kini siap dibagikan kepada publik Kota Pontianak lewat sebuah pameran seni lintas medium.
Kisah menarik ini terungkap dalam dialog TOSERBA di Studio RRI Pro 2 Pontianak, Senin, 13 Juli 2026). Dipandu oleh penyiar Naufal Rifqi, dua ilustrator muda, Maratushsolihah (Mara) dan Dustin, menceritakan pengalaman transformatif mereka selama empat hari bermukim di Dusun Lauk Rugun, Bukung, dan Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu.
Keduanya mengaku sempat mengalami culture shock bernada positif saat tiba di lokasi. Warga lokal menyambut kedatangan rombongan dengan upacara adat yang hangat, bahkan menganggap mereka layaknya anak kandung sendiri saat menetap di bilik-bilik Rumah Betang. Selama bermukim, para seniman ini lebur dalam keseharian warga lokal, mulai dari rutinitas mandi berjam-jam di sungai, menambak ikan, hingga mencari sayur di hutan.
Perjalanan ini sejatinya membawa pembelajaran kritis yang jauh melampaui urusan visual. Mara menceritakan bagaimana kegiatan ini membuka mata para peserta terhadap realitas kehidupan pedalaman.
"Awalnya kami mengira Art Studies ini bertujuan mencari inspirasi untuk menggambar alam. Ternyata, di sana kami menemukan fakta-fakta lapangan yang kompleks, mulai dari isu nyata pembabatan hutan hingga kerentanan posisi perempuan. Hal-hal yang selama ini mungkin hanya kami ketahui sebatas teori," ucap Mara yang banyak menyoroti edukasi menjaga alam lewat interaksi anak-anak dengan sungai.
Setiap seniman bebas menyerap keresahan serta pengetahuan lokal untuk dijadikan fondasi karya. Dustin, misalnya, merasa takjub melihat tradisi menenun yang mampu menjadi tiang penyangga ekonomi satu keluarga di Rumah Betang. Ia menyaksikan sendiri proses pengambilan pewarna alam dari hutan yang harus didahului dengan ritual adat demi menghormati keseimbangan alam.
Menyadari besarnya nilai kebudayaan tersebut, para seniman muda ini sepakat untuk berhati-hati dalam memproses ide. Mereka memikirkan matang-matang sisi etis dalam berkarya agar terhindar dari kesan mengeksploitasi apalagi mengglorifikasi kearifan lokal semata.
Seluruh arsip pembelajaran, goresan digital, rekaman audio, hingga tulisan dari ekspedisi ini akan dipresentasikan secara terbuka dalam pameran bertajuk "Kisah-Kisah dari Hulu". Acara yang dibuka secara gratis untuk umum ini dilangsungkan di Rumah Budaya Caping, Pontianak, pada tanggal 17 hingga 19 Juli 2026. Masyarakat dapat berkunjung, menikmati karya, serta berinteraksi langsung dengan para pembuatnya. Informasi selengkapnya juga dapat diakses melalui akun Instagram @inayakayan.
Baca juga: Suara dari Hulu: Perlawanan Perempuan Adat Long Pelban
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....