Komentar Sembarangan Bisa Jadi Petaka, Ini Pesan Bijak dari Galang Kangin

  • 16 Jul 2026 13:47 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Ajik Tibah dan Beli Kejoer menekankan pentingnya tidak mencampuri urusan orang lain sebagai refleksi penting dalam kehidupan bermasyarakat melalui pesan sastra Tantri.
  • Kebiasaan mencampuri persoalan orang lain tanpa mengetahui duduk perkara berpotensi memicu konflik, kesalahpahaman, dan merusak hubungan antarsesama.
  • Media sosial memudahkan orang untuk memberikan komentar negatif, membully, dan menghakimi tanpa mempertimbangkan konsekuensi dan dampak emosional bagi orang lain.
  • Penampilan luar seseorang tidak dapat dijadikan dasar untuk menilai kepribadiannya karena setiap individu memiliki perjuangan hidup yang berbeda dan potensi unik.
  • Masyarakat diajak untuk lebih fokus pada introspeksi diri dan peningkatan kualitas personal daripada menghakimi kehidupan orang lain demi keharmonisan sosial.

RRI.CO.ID, Denpasar — Siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar menghadirkan Ajik Tibah bersama Beli Kejoer yang mengangkat tema "Jangan Ikut Campur Urusan Orang Lain" sebagai refleksi penting dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, Rabu, 16 Juli 2026. Melalui kisah-kisah dalam sastra Tantri, keduanya mengajak masyarakat memahami bahwa kebiasaan mencampuri persoalan orang lain tanpa mengetahui duduk perkara justru berpotensi memicu konflik dan merusak hubungan antarsesama.

Tibah menjelaskan bahwa cerita-cerita Tantri sarat dengan pesan moral yang tetap relevan hingga saat ini, terutama mengenai pentingnya menjaga sikap, perkataan, dan tindakan. Menurutnya, seseorang hendaknya lebih fokus memperbaiki diri daripada sibuk mengomentari kehidupan orang lain yang belum tentu dipahami secara utuh.

"Kalau itu bukan urusan kita, sebaiknya jangan ikut campur karena kita belum tentu mengetahui persoalan yang sebenarnya," jelasnya. Ia menambahkan bahwa kebiasaan memberi penilaian secara tergesa-gesa hanya akan melahirkan kesalahpahaman dan memperkeruh keadaan.

Dalam dialog tersebut juga dibahas fenomena media sosial yang membuat sebagian orang mudah memberikan komentar negatif kepada orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya. Perilaku saling menghina, membully, dan menghakimi dinilai semakin mudah terjadi karena siapa pun dapat menyampaikan pendapat hanya melalui sentuhan jari di layar gawai.

"Di media sosial, banyak orang saling membully hanya karena komentar yang tidak dipikirkan dengan baik," ujar Kejoer. Ia mengingatkan bahwa setiap tulisan maupun ucapan memiliki konsekuensi yang dapat melukai perasaan orang lain.

Selanjutnya Tibah kembali menegaskan bahwa penampilan luar seseorang tidak dapat dijadikan dasar untuk menilai kepribadiannya. Ia mengajak masyarakat agar tidak mudah meremehkan orang lain karena setiap individu memiliki perjuangan hidup yang berbeda dan potensi yang belum tentu terlihat.

"Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat, karena kita tidak pernah benar-benar mengetahui perjalanan hidupnya," ungkapnya. Menurut Tibah, sikap menghargai sesama merupakan bentuk kebijaksanaan yang akan menciptakan hubungan sosial yang lebih harmonis.

Selain menghindari kebiasaan mencampuri urusan orang lain, masyarakat juga diajak untuk memperbanyak introspeksi dan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas diri. Dengan demikian, energi yang dimiliki dapat digunakan untuk berkarya, berbuat baik, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

"Lebih baik kita fokus memperbaiki diri sendiri daripada sibuk menghakimi kehidupan orang lain," tutup Kejoer. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kedamaian batin dan keharmonisan sosial dapat terwujud ketika setiap orang mampu menjaga ucapan, menghormati batas privasi, serta tidak mudah menghakimi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....