Rumah Gadang Ukiran Cina, di Limapuluh Kota
- 15 Jul 2026 10:11 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Limapuluh Kota - Rumah Gadang Ukiran Cina menjadi salah satu warisan arsitektur tradisional Minangkabau yang memiliki keunikan tersendiri. Bangunan bersejarah ini berada di Jorong Batu Nan Limo, Nagari Koto Tangah Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Rumah adat ini dikenal dengan sebutan "Rumah Gadang Ukiran Cina" karena dihiasi ragam ukiran bermotif khas Tionghoa atau aka cino, yang berpadu dengan arsitektur Minangkabau, dan sentuhan gaya kolonial Belanda.
Saat ini, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya dan mudah diakses karena hanya berjarak sekitar 200 meter dari jalan utama yang menghubungkan Kota Payakumbuh dengan Nagari Taeh.
Rumah Gadang Ukiran Cina mulai dibangun pada akhir abad ke-19 oleh seorang saudagar sukses Minangkabau, Datuak Bandaro Leman atau Leman Kayo, dan mulai ditempati pada 15 Maret 1902. Berbeda dengan rumah gadang pada umumnya yang dibangun sebagai milik kaum atau suku, rumah ini didirikan atas nama pribadi.
Kesuksesan Datuak Bandaro Leman dalam bidang perdagangan hingga ke Tiongkok diduga menjadi salah satu alasan hadirnya pengaruh budaya Tionghoa pada ornamen bangunan tersebut. Pada masa kolonial Belanda, rumah ini juga pernah difungsikan sebagai kediaman Tuanku Lareh Simalanggang.
Dari sisi arsitektur, Rumah Gadang Ukiran Cina mempertahankan ciri khas rumah adat Minangkabau, seperti atap bergonjong berjumlah enam, anjuang di kedua ujung bangunan, serta tangga utama yang berada di bagian tengah.
Keistimewaannya terletak pada perpaduan unsur arsitektur Minangkabau dengan ragam hias bercorak Tionghoa serta penggunaan teknologi dan material bangunan yang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda. Perpaduan tersebut menjadikan rumah ini sebagai salah satu contoh akulturasi budaya yang langka di Sumatera Barat.
Secara struktur, bangunan terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kolong sebagai penyangga sekaligus tempat penyimpanan, badan rumah sebagai ruang hunian keluarga, serta atap yang berfungsi melindungi bangunan dari panas dan hujan.
Konstruksi tradisional tersebut dirancang menyatu sehingga mampu bertahan terhadap guncangan gempa. Hingga kini, Rumah Gadang Ukiran Cina tidak hanya menjadi simbol kekayaan budaya Minangkabau, tetapi juga menjadi bukti harmonisasi berbagai pengaruh budaya yang memperkaya khazanah arsitektur Indonesia. (ER/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....