Proses Menjadi Maestro Tari Seorang Daryono Darmorejono

  • 14 Jul 2026 20:35 WIB
  •  Surakarta
Poin Utama
  • Nguri-uri Tari tradisi
  • Maestro tari tradisi gaya Surakarta
  • Maestro tari tradisi gaya Mangkunegaran

RRI.CO.ID, Surakarta - Maestro seni tari Daryono Darmorejono asal Surakarta konsisten melestarikan seni tradisi sejak usia dini hingga saat ini. Ia berhasil mengemas pengalaman menari dalam film dokumenter berjudul " Cahaya Dalam Bait-Bait Samar " yang diputar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Senin 13 Juli 2026.

Kegiatan rekonstruksi monumen tari yang didukung oleh Alokaarts bekerja sama dengan Taman Budaya Jawa Tengah, Gage Desain dan lain-lain itu diikuti ratusan penonton . Setelah pemutaran film dokumeter perjalanan berkesenian, dilanjutkan dengan diskusi bersama moderator Matheus Wasi Bantolo yang juga seorang dosen di Institut Seni Indonesia (ISI Surakarta ).

Pada sesi selanjutnya digelar pertunjukan tari tunggal dengan judul " Megatruh ". Dalam sesi diskusi Daryono mengupas tuntas tentang perjalanan menari, teknik belajar menari, pengalaman spiritual dari proses menari hingga tataran meditasi dengan menari .

Menurutnya, maksud dari pendokumentasian tari itu agar terjadi transfer ilmu ketubuhan atau kepenarian seorang maestro tari kepada generasi muda yang saat ini ingin menggeluti dunia tari tradisi khususnya .

" Sebagai penari yang dikatakan sudah tuwa seumuran saya ini, saya ingin mentransfer ilmu ketubuhan , bagaimana merasakan gerak-gerak tari dalam tubuh sehingga kita mendapatkan kenyamanan jiwa dan ketenangan pikir, " katanya.

Daryono juga memperagakan beberapa vokabuler gerak tari yang menurutnya dapat digunakan sebagai sarana menenangkan diri atau meditasi yakni Sembahan sebagai bentuk memohon dan pasrah kepada Tuhan . Laku Impur sebagai cara menguji kesabaran menuju sesuatu tujuan dan Kipat Srisig yang menurutnya dapat sebagai meditasi terbang menggapai tujuan atau asa .

Dikatakan pula bahwa proses menjadi maestro tari tidaklah instan tetapi melalui proses yang sangat panjang . Daryono yang juga dosen ISI Surakarta itu tak hanya menggeluti tari alus gaya Surakarta , tetapi juga aktif nguri - uri seni tradisi tari gaya Mangkunegaran.

Karya tari dan keterlibatannya sebagai penari untuk acara besar seperti festival dan pertunjukan apresiasi yang bersifat spektakuler, telah memenuhi agenda di dalam negeri ataupun mancanegara . Bahkan karya tari unggulannya Bedaya Diradameto gaya Mangkunegaran telah menghantarkannya sebagai seorang maestro tari.

Salah satu seniman tari yang juga murid dari Daryono , Indiarni Gunawan mengatakan sangat memuji kepiawaian menari sang maestro. Di usia yang tak lagi muda, Daryono mampu menari jawa dengan teknik tinggi layaknya seorang mahasiswa.

Menurut Indiarni, konsistensi menjaga gerak tarinya luar biasa, terbukti dari pernafasan yang tidak terengah-engah saat menari dari awal hingga akhir tarian . Nafasnya terjaga , fisiknya tergolong prima dan pertunjukannya masih layak diapresiasi tinggi.

" Dari dulu sampai sekarang pak Daryono masih bagus menarinya , tidak menggeh-menggeh (terengah-engah), itu yang membuat saya heran dan salut ," ujar Indiarni.

Pada sesi terakhir, disajikan tari tunggal karya Daryono yakni tari " Megatruh " dengan didukung pengrawit 4 orang dan seorang pesinden. Penonton sangat mengapresiasi sang maestro dengan tepuk tangan riuh serta berswa foto di tempat pertunjukan. ( Ita Wijayanti)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....