Penampilan “Lengger Bule” Meriahkan Grebeg Sura Baturraden 2026
- 12 Jul 2026 22:35 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas – Penampilan “Lengger Bule” menjadi daya tarik tersendiri dalam Grebeg Sura Baturraden 2026 di Lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, Minggu (12/7/2026). Sebanyak 12 relawan asal Belgia tampil mengenakan busana penari lengger Banyumasan dan ikut memeriahkan kirab budaya.
Kehadiran para relawan mancanegara itu mencuri perhatian masyarakat yang memadati kawasan wisata. Meski tidak memiliki persiapan latihan sebelumnya, mereka tetap luwes menari bersama para seniman lokal.
Koordinator Yayasan Tieleng Belanda untuk Indonesia, Tekad Santosa, mengatakan para relawan tersebut merupakan peserta program sukarela yang sedang membantu pengecatan SD Negeri 2 Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden. Selain menjalankan kegiatan sosial, mereka juga diajak mengenal budaya Banyumas selama berada di Indonesia.
Menurut Tekad, kesempatan tampil sebagai Lengger Bule berawal ketika para relawan mengetahui Festival Grebeg Sura sedang berlangsung. Mereka kemudian ditawari untuk ikut memeriahkan kirab budaya dan langsung menyambutnya dengan antusias.
"Sebenarnya mereka adalah volunteer yang sedang mengerjakan pengecatan di SD Negeri 2 Kemutug Lor. Mereka datang bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga berwisata. Kebetulan di Baturraden ada Festival Grebeg Sura, lalu saya tawarkan apakah mereka berminat mengikuti tari lengger, ternyata mereka sangat antusias," kata Tekad.
Meski tidak memiliki pengalaman menari lengger, para relawan tetap bersemangat mengikuti seluruh rangkaian acara. Bahkan, mereka rela bangun sejak pukul 04.00 WIB untuk menjalani proses tata rias sebelum tampil di hadapan ribuan pengunjung.
"Untuk mereka ini pengalaman yang sangat luar biasa karena belum pernah melihat sebelumnya. Pengalaman ini juga sangat menyenangkan bagi mereka," ujar Tekad.
Tekad menjelaskan, rombongan asal Belgia itu berjumlah 12 orang, terdiri atas sembilan siswa dan tiga guru dari salah satu sekolah swasta di Belgia.
Ia menambahkan, program sukarelawan tersebut telah berjalan sejak 2017. Kegiatan sempat terhenti akibat pandemi COVID-19, kemudian kembali dilaksanakan mulai 2022 hingga sekarang.
Selain mengikuti pertukaran budaya, para relawan juga aktif membantu pembangunan sarana pendidikan di Banyumas. Hingga kini mereka telah berkontribusi merenovasi empat sekolah dasar, membangun empat taman kanak-kanak, dan empat gedung pendidikan anak usia dini (PAUD).
“Kontribusi para relawan tersebut tidak hanya mempererat hubungan budaya Indonesia dan Belgia, tetapi juga membantu masyarakat serta pemerintah daerah dalam meningkatkan fasilitas pendidikan di Banyumas,” ucap Tekad.
Salah satu peserta program sukarelawan asal Belgia, Mieke, mengaku terkesan dengan pengalaman yang diperolehnya selama berada di Baturraden. Menurutnya, keindahan alam serta sambutan hangat dari masyarakat menjadi kesan yang paling membekas selama mengikuti kegiatan di Banyumas.
"Baturraden sangat indah dan masyarakatnya sangat ramah, kami merasakan sambutan yang begitu hangat. Acara ini sangat luar biasa, kami senang bisa menjadi bagian dari budaya Indonesia dan mengenal lebih dekat budaya Indonesia yang begitu indah," katanya.
Mieke menjelaskan, rombongannya berasal dari Sekolah Maricolen di Brugge, Belgia. Mereka telah berada di Baturraden selama dua pekan dan masih akan melanjutkan kegiatan sukarelawan selama tiga pekan. Selama tinggal di Banyumas, Mieke dkk juga menikmati berbagai hidangan khas Indonesia.
“Sangat banyak makanan enak di sini. Nasi goreng, ayam, tempe, mi, semuanya enak-enak,” tutur Mieke.
Mieke berharap dapat kembali berkunjung ke Indonesia pada kesempatan mendatang untuk mengikuti program sukarelawan dan mempelajari lebih banyak tentang budaya Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....