Festival Gunung Slamet Ajak Lestarikan Budaya dan Botani
- 06 Jul 2026 10:04 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purbalingga - Festival Gunung Slamet (FGS) ke-9 digelar di kawasan wisata D'LAS Serang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, pada 3-5 Juli 2026. Festival yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) tersebut mengusung tema Nature and Culture dengan memadukan pelestarian budaya dan kekayaan alam.
Sesepuh Masyarakat Adat Purbalingga, Kiai Samsuri mengatakan, rangkaian utama festival diisi kirab budaya dan prosesi pengambilan Air Sikopyah. Ritual tersebut menjadi simbol kesucian, keberkahan, sekaligus upaya menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
“Pengambilan Air Sikopyah mengajarkan tentang arti kesucian, keberkahan, dan penjagaan terhadap tradisi leluhur. Perang Tomat menyimbolkan kesyukuran dan kegembiraan atas hasil bumi yang diperoleh sebagai keberlimpahan rezeki masyarakat,” katanya, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Samsuri, tradisi Perang Tomat menjadi salah satu atraksi yang melibatkan masyarakat dalam suasana penuh kegembiraan. Tradisi saling melempar tomat tersebut juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi serta harapan terhadap kesuburan alam.
Festival juga dimeriahkan gelar budaya dan merti bumi yang dikemas melalui kegiatan bersih desa, kenduri bersama, serta pentas seni tari kolosal. “Agenda gelar budaya, merti bumi, dan pertunjukan musik sebagai tambahan hiburan rakyat untuk memeriahkan jalannya festival agar lebih diminati dan dipahami oleh masyarakat,” ujarnya.
Dosen Peneliti Unsoed, Heri Irawan mengatakan, Festival Gunung Slamet turut mengajak masyarakat mengenal dan melestarikan kekayaan etnobotani yang bersumber dari kawasan hutan masyarakat adat. “Prosesi ini sebagai simbol hubungan antara masyarakat dengan tumbuhan, termasuk pemanfaatan tumbuhan dalam budaya, pengobatan tradisional, pangan, dan ritual,” katanya.
Heri menilai, pelestarian potensi botani menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan adat sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. “Ekosistem botani menjadi simbol kehidupan dalam interaksi sosial. Menjaga kelestarian ekologi yang menunjukkan kesyukuran atas alam yang memberi manfaat kehidupan,” ucapnya.
Melalui perpaduan ritual adat, kesenian, dan edukasi lingkungan, Festival Gunung Slamet menjadi ruang untuk memperkuat hubungan masyarakat dengan budaya dan alam di lereng Gunung Slamet. Penyelenggaraan festival diharapkan mendorong kesadaran bersama menjaga tradisi sekaligus kelestarian ekosistem bagi generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....