Tradisi Mappatampung Pererat Solidaritas Bugis di Tolitoli
- 05 Jul 2026 13:27 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli – Jarak ribuan kilometer dari kampung halaman tidak menyurutkan semangat masyarakat suku Bugis di Kabupaten Tolitoli untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat leluhur. Salah satu tradisi yang tetap dijalankan dengan penuh khidmat di tanah perantauan adalah Mappa Tampung, ritual adat kematian yang menjadi simbol penghormatan terakhir kepada anggota keluarga yang telah wafat.
Tradisi Mappatampung umumnya dilaksanakan setelah satu tahun atau beberapa puluh tahun pasca-kematian. Prosesi diawali dengan ziarah dan pembersihan makam, kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban, doa bersama, serta berbagai rangkaian adat lainnya sebagai bentuk penghormatan dan pengiriman doa bagi almarhum maupun almarhumah.
Di tanah rantau, pelaksanaan tradisi ini mengalami sejumlah penyesuaian tanpa mengurangi nilai sakralnya. Jika di Sulawesi Selatan prosesi biasanya melibatkan seluruh warga kampung, di Tolitoli pelaksanaannya lebih mengandalkan partisipasi keluarga besar dan sesama perantau Bugis.
Rangkaian Mappa Tampung di perantauan meliputi Mapanre Tau atau jamuan makan dengan hidangan khas Bugis seperti Nasu Likku, Burasa, Barongko, dan Sanggara Baluba. Selanjutnya dilaksanakan khatam Al-Qur'an dan tahlilan yang memadukan nilai-nilai Islam dengan adat Bugis. Prosesi ditutup dengan pemberian atau perbaikan tanda makam sebagai simbol bahwa kewajiban keluarga kepada almarhum telah ditunaikan.
Salah seorang masyarakat Bugis di Tolitoli, Azis, mengatakan tradisi Mappatampung bukan hanya menjadi kewajiban adat dan agama, tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara sesama perantau Bugis.
"Di perantauan, kami tidak punya keluarga dekat secara darah sekampung. Namun, lewat acara Mattampung ini, ikatan Sipakatau (saling memanusiakan) dan Sipakalebbi (saling menghargai) sesama perantau Bugis justru semakin kuat," ujar Azis kepada RRI.co.id, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, generasi muda juga terus dilibatkan agar tradisi tersebut tetap lestari. Ia menegaskan bahwa keberhasilan merantau tidak boleh membuat masyarakat Bugis melupakan identitas budaya dan penghormatan kepada leluhur.
"Tradisi ini adalah identitas kami. Kami boleh sukses di kota orang, memakai pakaian modern, dan bekerja di sektor formal, tetapi urusan menghormati leluhur serta menjaga adat melalui Mappatampung tidak boleh hilang," tambahnya.
Tradisi Mappatampung menjadi bukti bahwa bagi masyarakat Bugis, sejauh apapun merantau, nilai-nilai adat, penghormatan kepada leluhur, dan semangat persaudaraan tetap terjaga sebagai bagian dari jati diri yang diwariskan lintas generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....