Kemkodigi-LPP RRI-DNIKS Gelar Talkshow-Wayang Kulit Bertajuk Sapa Lansia
- 31 Mei 2026 21:11 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) melalui Badan Pengembangan SDM (BPSDM), bersama LPP RRI, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), dan berbagai komunitas lansia, menggelar Talkshow Literasi Digital dan Pagelaran Wayang Kulit bertajuk "Sapa Lansia: Tetap Terhubung, Bahagia, dan Anti Gaptek", di Auditorium LPP RRI Jakarta, pada Sabtu 30 Mei 2026. Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya untuk membangun masyarakat lanjut usia (lansia) yang cakap digital.
Acara terbuka untuk umum dan menjadi ruang edukasi, sekaligus hiburan bagi masyarakat, khususnya lansia, agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, tanpa kehilangan nilai-nilai budaya dan kebersamaan. Ketua Umum DNIKS, Effendy Choirie, menegaskan bahwa lansia harus dipandang sebagai aset bangsa yang tetap produktif, sehat, dan bahagia di tengah perkembangan teknologi.
"Lansia tidak boleh ditinggalkan dalam transformasi digital. Mereka harus didampingi agar tetap terhubung dengan keluarga, masyarakat, layanan publik, dan berbagai sumber informasi yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Lansia yang sehat, bahagia, dan melek digital adalah bagian dari Indonesia yang maju," ujar Effendy.
Kepala BPSDM Komdigi, Bonifasius Pudjianto, menjelaskan bahwa literasi digital merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, transformasi digital harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok lansia.
Ia menekankan bahwa berbagai program pengembangan literasi digital yang dijalankan pemerintah bertujuan untuk membangun kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara aman, bijak, dan produktif. Di era digital saat ini, lansia perlu mendapatkan pendampingan agar dapat menikmati manfaat teknologi, sekaligus terlindungi dari berbagai risiko, seperti penipuan daring, disinformasi, maupun kejahatan digital.
Bonifasius juga menyoroti pentingnya implementasi kebijakan perlindungan ruang digital yang aman dan sehat, sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem digital yang inklusif bagi seluruh warga negara.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas LPP RRI, Anwar Mujahid Adhy Trisnanto, menegaskan bahwa RRI merupakan media publik yang hadir hingga pelosok Indonesia. RRI memiliki peran strategis untuk menyebarluaskan literasi digital kepada masyarakat. Menurutnya, literasi digital tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga membangun kesadaran kritis dalam menerima informasi dan berinteraksi di ruang digital.
"RRI memiliki jaringan yang luas dan dekat dengan masyarakat. Melalui siaran radio, platform digital, dan berbagai program edukatif, kami berkomitmen menjadi jembatan informasi yang terpercaya sekaligus sarana peningkatan literasi digital masyarakat, termasuk bagi kelompok lansia," kata Anwar.
Kolaborasi antara media publik, pemerintah, organisasi sosial, dan komunitas menjadi kunci untuk memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam transformasi digital.
Sedangkan, Ketua DNIKS, RA Loretta Kartikasari, menyoroti tantangan yang dihadapi lansia di era digital. Menurutnya, lansia kini di kota besar aktif, maju dan berbdaya turut aktif dalam penggunaan teknologi digital dalam komunikasi. Namun demikian, masih banyak lansia yang masih merasa asing dengan teknologi, lantaran keterbatasan akses, kurangnya pendampingan, maupun kekhawatiran melakukan kesalahan saat menggunakan perangkat digital. Oleh karena itu, literasi digital bagi lansia harus dilakukan dengan pendekatan yang sederhana, ramah, dan sesuai kebutuhan sehari-hari.
"Lansia tidak perlu menjadi ahli teknologi. Yang terpenting adalah mereka merasa nyaman, percaya diri, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat seperti berkomunikasi dengan keluarga, mengakses layanan kesehatan, memperoleh informasi, hingga mengembangkan aktivitas produktif," ucap Loretta.
Ia menambahkan bahwa lansia kini menjadi pelaku dalam transformasi digital, bukan sekadar penonton. Dengan pendampingan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana untuk menjaga kesehatan mental, memperluas jejaring sosial, dan meningkatkan kualitas hidup lansia.
Adapun keunikan dari kegiatan ini terletak pada perpaduan antara edukasi digital dengan seni budaya melalui pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh dalang Ki Bambang Asmoro. Setelah sesi talkshow, peserta disuguhi pertunjukan wayang yang mengangkat pesan-pesan kehidupan, kebijaksanaan, serta pentingnya beradaptasi dengan perubahan zaman. Melalui pendekatan budaya, pesan literasi digital disampaikan secara lebih dekat dan mudah diterima oleh masyarakat, khususnya generasi lansia yang memiliki kedekatan emosional dengan seni tradisional.
Kegiatan "Sapa Lansia: Tetap Terhubung, Bahagia, dan Anti Gaptek" menjadi bukti bahwa transformasi digital dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem digital yang inklusif, aman, dan memberdayakan seluruh generasi, sehingga tidak ada yang tertinggal dalam perjalanan menuju Indonesia yang semakin cakap digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....