Membaca Krisis Sungai lewat Perspektif yang Lebih Manusiawi
- 23 Mei 2026 10:12 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Sungai dipahami sebagai ruang kehidupan yang memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat
RRI.CO.ID, Jakarta - Komunitas Serambi Disertasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menggelar Diskusi Jumatan bertajuk “Sungai Yang Bermasalah, Ikan Sapu-sapu Yang Disalahkan” pada Jumat, 22 Mei 2026 di Serambi Disertasi FIB UI. Forum ini menghadirkan ruang dialog publik yang mengajak masyarakat melihat persoalan sungai secara lebih mendalam, tidak hanya dari sisi ekologis, tetapi juga sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Diskusi berlangsung mulai pukul 17.00 WIB hingga selesai dengan menghadirkan pembicara lintas disiplin dan pengalaman lapangan.
Kegiatan ini mengangkat ironi pengelolaan sungai di Indonesia, di mana ikan sapu-sapu kerap dijadikan penyebab utama rusaknya ekosistem sungai. Padahal, keberadaan spesies invasif tersebut dinilai lebih sebagai tanda adanya persoalan besar yang telah lama terjadi, seperti pencemaran air, sedimentasi, hilangnya vegetasi riparian, perubahan tata ruang, hingga lemahnya tata kelola lingkungan perkotaan dan daerah aliran sungai.
Melalui diskusi ini, sungai dipahami sebagai ruang kehidupan yang memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat. Forum tersebut juga menyoroti bagaimana krisis lingkungan sering kali disederhanakan dengan mencari “kambing hitam”, sementara akar persoalan yang lebih mendasar justru luput dari perhatian. Pendekatan multidimensional dinilai penting agar solusi yang dihasilkan tidak bersifat sesaat maupun sporadis.

Acara dibuka dengan performance art dari seniman teater Herdiaz Sihombing atau Mbeing yang menampilkan gerakan-gerakan menyerupai ikan sapu-sapu sebagai metafora makhluk yang tersudutkan dan dipersalahkan. Pertunjukan tersebut dipadukan dengan pembacaan puisi yang merefleksikan hubungan manusia dengan sungai, memori kota, dan kegelisahan ekologis masyarakat urban. Nuansa seni dalam forum ini memperkuat pesan bahwa isu lingkungan juga menyentuh sisi kemanusiaan dan kebudayaan.
Diskusi menghadirkan Endra Saleh Atmawidjaja selaku Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia serta Letnan Jenderal TNI M. Mohamad Hasan, Dankodiklatad sekaligus Pendiri Relawan Indonesia Pembela Alam yang pernah terlibat langsung dalam gerakan penyelamatan Sungai Ciliwung saat menjabat Danrem Bogor. Sementara itu, Prof. Manneke Budiman hadir sebagai penanggap dan penyimpul diskusi untuk memperkaya perspektif akademik dalam forum tersebut.
Ketua Komunitas Serambi Disertasi FIB UI, Nanang Asfarinal, menyampaikan bahwa forum ini diharapkan menjadi ruang berpikir yang lebih sehat dan berkeadaban dalam memahami persoalan lingkungan. “Forum ini mengajak kita melihat persoalan dari beragam sudut pandang dan mengedepankan kajian untuk mendalami serta memahami persoalan sebelum mengambil tindakan yang sporadis. Melalui ruang intelektual ini, kita bertukar pikiran dengan kewarasan dalam berpikir untuk memahami kompleksitas persoalan sungai dan lingkungan,” ujarnya. Sebagai simbol refleksi sosial, panitia juga menyajikan menu siomay sebagai pengingat bahwa isu ekologis tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kehidupan ekonomi masyarakat kecil yang sempat terdampak stigma terkait ikan sapu-sapu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....