Pelestarian Akar Budaya Melalui Sanggar Tari

  • 28 Apr 2026 11:27 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Program siaran berjaringan nasional RRI “Suara Budaya Nusantara” menghadirkan perbincangan tentang pelestarian budaya bersama host Christin Gegung dari RRI Kupang dan Nova Calysta dari RRI Jakarta. Dalam wawancara ini, narasumber Petrus Pande Migo selaku pimpinan Sanggar Potowolo dari etnis Ende Lio, Nusa Tenggara Timur, membahas pentingnya menjaga keaslian budaya di tengah arus globalisasi. Topik ini diangkat sebagai upaya memperkuat identitas budaya bangsa melalui seni tari tradisional.

Petrus menjelaskan bahwa Sanggar Potowolo didirikan pada tahun 1998 di Kupang oleh komunitas masyarakat Lio Ende. Tujuan utamanya adalah memperkenalkan budaya leluhur kepada generasi muda sekaligus mencegah lunturnya nilai-nilai tradisional. Nama “Potowolo” sendiri memiliki makna filosofis, yaitu mengangkat harkat dan martabat leluhur setinggi gunung. Sanggar ini juga menjadi wadah edukasi budaya bagi masyarakat luas, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Dalam praktiknya, Sanggar Potowolo tetap mempertahankan keaslian tarian tradisional, baik dari segi gerakan maupun iringan musik. Mereka menggunakan alat musik tradisional seperti gong, tambur, dan suling tanpa mencampurkannya dengan unsur modern. Petrus menegaskan, “Kami masih mempertahankan keasliannya, sehingga masyarakat bisa melihat bagaimana tarian tradisi yang sebenarnya.” Hal ini menjadi ciri khas sanggar yang membedakannya dari kelompok seni lain yang mulai mengadopsi gaya kontemporer.

Menanggapi fenomena kolaborasi tari tradisional dengan unsur modern, Petrus menyatakan bahwa hal tersebut sah saja dilakukan, terutama untuk menarik minat generasi muda. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga bentuk asli budaya sebagai identitas. “Kami tidak melarang generasi muda berkreasi, tetapi kami ingin menunjukkan bahwa budaya asli itu seperti ini,” ujarnya. Menurutnya, keseimbangan antara inovasi dan pelestarian menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan budaya.

Melalui kegiatan sanggar tari, Petrus berharap generasi muda dapat lebih mencintai dan menghargai budaya lokal. Sanggar bukan hanya tempat belajar menari, tetapi juga ruang untuk memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga komunitas, sehingga akar budaya bangsa tetap kuat di tengah perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....