Tajen, antara Tradisi, Hobi dan Cermin Tri Kaya Parisudha

  • 20 Apr 2026 09:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kementrian Agama Kota Denpasar, I Wayan Bayu Dharmayana, dalam siaran Surya Puja Pro 4 RRI Denpasar edisi Minggu, 19 April 2026, mengangkat topik tajen sebagai fenomena yang perlu dilihat secara bijak. Ia menekankan bahwa tajen tidak hanya dipandang dari sisi hukum atau perjudian, tetapi juga dari perspektif ajaran Tri Kaya Parisuda.

Secara filosofis, tajen berakar dari tradisi tabuh rah yang merupakan bagian dari upacara Bhuta Yadnya. Tradisi ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam serta menetralisir kekuatan negatif melalui simbol persembahan.

Dalam praktiknya, sabung ayam dalam konteks ritual bersifat terbatas dan tidak berorientasi pada kemenangan maupun taruhan. Namun, dalam perkembangan zaman, tajen sering kali bergeser menjadi ajang hiburan dan perjudian yang menjauh dari nilai sakralnya.

Bayu Dharmayana mengingatkan pentingnya menjaga kesucian pikiran atau manacika sebagai dasar dalam bertindak. "Ketika pikiran dikuasai oleh keserakahan, maka seseorang sejatinya telah kalah sebelum memasuki arena," ungkapnya.

Selain pikiran, pengendalian ucapan atau wacika juga menjadi sorotan dalam ajaran Tri Kaya Parisuda. Emosi yang tidak terkendali di arena tajen kerap memicu kata-kata kasar, fitnah, hingga konflik antarindividu.

Aspek perbuatan atau kayika juga tak kalah penting untuk diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak kasus menunjukkan bahwa keterlibatan dalam tajen membuat seseorang lalai terhadap tanggung jawab keluarga dan sosial.

Ia menambahkan bahwa tajen yang tidak terkendali dapat menimbulkan dampak negatif, termasuk kecanduan dan kerugian ekonomi. Bahkan, tidak jarang hal tersebut mendorong generasi muda menjual aset demi mengejar keuntungan instan.

"Dalam analoginya, tajen diibaratkan seperti pisau yang tajam dan dapat melukai jika tidak digunakan dengan bijak," kata Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut. Ia menegaskan, kehidupan, tanpa pengendalian diri melalui Tri Kaya Parisuda, dapat merusak hubungan dan ketenangan batin.

Bayu Dharmayana menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang laki-laki Bali bukan dari kemenangan dalam tajen. Melainkan dari kemampuannya mengendalikan diri dan menjalankan nilai-nilai dharma dalam kehidupan.

Di akhir siaran, masyarakat diajak untuk menempatkan tajen sesuai porsinya sebagai bagian dari ritual, bukan sebagai ajang perjudian. Dengan berpegang pada Tri Kaya Parisuda, diharapkan tercipta kehidupan yang harmonis, seimbang, dan penuh kebahagiaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....