Festival Lomang Ayo Onam Tradisi Hari Raya Enam
- 03 Apr 2026 06:22 WIB
- Bukittinggi
RRL.CO.ID,Bukittinggi - Tradisi unik masyarakat Kabupaten Kampar dalam menyambut Hari Raya Enam kembali digelar melalui Festival Lomang Ayo Onam yang dipusatkan di Desa Pulau Lawas, Kecamatan Bangkinang, Jumat, 27 Maret 2026. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bupati Kampar, Ahmad Yuzar.
Festival Lomang merupakan bagian dari rangkaian tradisi Ayo Onam, yakni perayaan Hari Raya Enam yang identik dengan ziarah kubur dan telah lama menjadi ciri khas masyarakat Bangkinang. Tradisi ini tidak hanya mengandung nilai budaya, tetapi juga sarat makna spiritual serta memperkuat kebersamaan antarwarga.
Dalam sambutannya, Ahmad Yuzar menjelaskan bahwa tradisi memasak lomang atau lemang telah diwariskan secara turun-temurun dan rutin dilaksanakan menjelang Hari Raya Idulfitri, Hari Raya Enam, maupun Iduladha.
“Tradisi memasak lemang ini telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Hari ini kita laksanakan lomba memasak lemang bertepatan dengan sehari menjelang Hari Raya Enam, dan beberapa hari ke depan akan dimeriahkan dengan pacu sampan di Tepian Jembatan Waterfront City Pulau Lawas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Muliardi, turut mengapresiasi pelaksanaan tradisi tersebut. Ia menilai Ayo Onam memiliki nilai budaya sekaligus keagamaan yang kuat di tengah masyarakat.
Menurutnya, tradisi ini mencerminkan nilai-nilai seperti kebersamaan, silaturahmi, dan kepedulian sosial. Selain itu, kegiatan ziarah kubur yang menjadi bagian utama Ayo Onam juga mengingatkan masyarakat untuk mendoakan leluhur serta memperkuat kesadaran spiritual.
Muliardi menambahkan, kearifan lokal seperti Festival Lomang perlu terus dilestarikan karena dapat menjadi sarana memperkuat moderasi beragama. Tradisi tersebut dinilai mampu memadukan nilai budaya dan agama dalam kehidupan masyarakat secara harmonis.
Festival Lomang Ayo Onam berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, lemang yang telah dimasak dibagikan kepada masyarakat. Sementara pada hari kedua, digelar tradisi Makan Bajambau sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Melalui penyelenggaraan festival ini, diharapkan tradisi lokal yang sarat nilai religius dan sosial dapat terus terjaga, sekaligus memberikan dampak positif dalam penguatan budaya serta pengembangan pariwisata daerah. (ER/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....