Menelusuri Jejak Sejarah Aktivitas Memancing Pertama di Nusantara

  • 19 Jul 2026 18:42 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Aktivitas memancing di kepulauan Indonesia bukanlah fenomena modern, melainkan warisan budaya bahari yang telah berusia belasan ribu tahun. Sebagai wilayah yang dikelilingi oleh lautan subur dan dilintasi arus samudra kaya nutrisi, Nusantara menjadi tempat ideal bagi manusia purba untuk mengembangkan teknologi maritim. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa kemampuan menangkap ikan dengan kail dan jaring berkembang pesat seiring dengan migrasi manusia prasejarah yang mulai mendiami pulau-pulau di Indonesia bagian timur dan barat.

Salah satu bukti fisik paling spektakuler mengenai teknologi memancing purba di Indonesia ditemukan di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada ekskavasi di Gua Tron Bon Lei, para arkeolog dari Australian National University (ANU) bersama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berhasil menemukan kail pancing tertua di kawasan Asia Tenggara. Kail pancing yang terbuat dari cangkang kerang laut tersebut diperkirakan berusia sekitar 12.000 hingga 22.000 tahun. Penemuan ini membuktikan bahwa komunitas prasejarah di wilayah Wallacea sudah memiliki keahlian tingkat tinggi dalam membuat alat pancing melengkung untuk menangkap pelagis (ikan laut dalam).

Selain artefak berupa kail, jejak aktivitas penangkapan ikan massal dan navigasi laut juga terekam abadi melalui lukisan cadas prasejarah (cave paintings). Di dinding-dinding gua kawasan Maros-Pangkep (Sulawesi Selatan) dan pulau-pulau di Maluku, ditemukan lukisan purba berwarna merah yang menggambarkan bentuk perahu, hewan laut, serta pola yang menyerupai jaring pukat sederhana. Gambar-gambar yang berusia lebih dari 10.000 tahun ini mengindikasikan bahwa memancing telah menjadi bagian dari ritual, spiritualitas, dan identitas sosial yang sangat dihormati oleh masyarakat purba Nusantara.

Memasuki zaman logam (Logam Awal/Perundagian), teknologi penangkapan ikan di Indonesia mengalami revolusi material. Penggunaan kail dari tulang atau kerang mulai digantikan oleh logam kuningan dan perunggu. Menariknya, fungsi memancing juga terekam pada Moko, drum perunggu khas Pulau Alor yang sering digunakan sebagai maskawin dan simbol status. Beberapa ragam hias pada Moko kuno dan Nekara menggambarkan figur manusia yang sedang memegang tali pancing atau mendayung perahu kayu tradisional untuk menjala ikan, menunjukkan bahwa budaya memancing telah menyatu erat dengan sistem adat dan perdagangan antar-pulau pada masa itu.

Pada akhirnya, jejak kail cangkang di Alor dan lukisan gua di Sulawesi menegaskan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pionir sejati dalam eksploitasi sumber daya laut. Memancing di Nusantara berevolusi dari sekadar insting bertahan hidup di pesisir pantai dangkal menjadi kemampuan navigasi laut dalam yang canggih. Warisan teknologi prasejarah inilah yang membentuk fondasi kuat bagi Indonesia hingga tumbuh menjadi peradaban bahari yang tangguh dan diperhitungkan di mata dunia.(atlasobscura.com)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....