Kurang Perhatian, Kondisi di Tanggul Wika Kalibaru Memprihatinkan
- 17 Jul 2026 12:50 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA — Di ujung utara Jakarta, tepatnya di kawasan tanggul Wika, Kalibaru, Cilincing, ada sebuah mimpi warga yang perlahan-lahan pupus. Area yang sejatinya memiliki potensi besar sebagai ruang publik—tempat warga menghirup angin laut, berjalan kaki, dan berolahraga di pagi hari—kini justru berubah menjadi kawasan yang semrawut, kotor, dan sulit diakses.
Warga setempat kini harus menghadapi dua persoalan pelik sekaligus: tumpukan bambu nelayan yang menutup jalan, serta hilangnya konblok jalanan akibat dijarah oleh oknum tak bertanggung jawab.
Tergusur Bambu dan Sampah
Setiap harinya, pemandangan di sepanjang tanggul Wika disuguhi oleh tumpukan bambu-bambu panjang milik nelayan. Bambu yang biasanya digunakan untuk membuat bagang ini diletakkan melintang dan menumpuk begitu saja di badan jalan. Beberapa di antaranya bahkan merupakan bambu lapuk yang sudah rusak, tidak terpakai, dan dibiarkan membusuk.
"Ini kan jalan untuk rekreasi warga, untuk jalan-jalan dan olahraga, bukan gudang untuk menaruh bambu," keluh Joni salah seorang warga yang kerap melintas di area tersebut. Kamis 16 Juni 2026
Dampak dari pembiaran ini tidak main-main. Sampah-sampah plastik dari laut dan sisa aktivitas warga kerap tersangkut di sela-sela tumpukan bambu. Warga yang ingin kerja bakti atau menyapu jalanan pun dibuat frustrasi karena sapu mereka terhalang oleh tumpukan material kayu yang berat.
Jalanan Rusak Akibat Konblok Dijarah
Seolah belum cukup menderita dengan tumpukan bambu, kini warga yang membawa kendaraan roda dua maupun roda empat harus mengelus dada. Akses jalan tanggul yang dulunya rata, kini mulai berongga. Penyebabnya mengejutkan: sejumlah konblok jalan dijarah dan dicuri oleh tangan-tangan jahil.
Hilangnya konblok-konblok ini membuat struktur jalan menjadi tidak stabil. Saat hujan turun, lubang-lubang bekas konblok berubah menjadi kubangan yang licin. Akses kendaraan seperti sepeda dan motor yang ingin melintasi tanggul Wika pun kini menjadi sangat sulit dan berbahaya.
"Motor sering kali tergelincir," ujar Joni.
Menanti Ketegasan Pengurus Lingkungan
Warga menyayangkan sikap acuh tak acuh dari pengurus lingkungan setempat. Baik RT maupun RW dinilai kurang tegas dalam mengawasi lingkungan, membiarkan para nelayan menumpuk bambu sembarangan, serta meloloskan aksi penjarahan konblok yang merugikan fasilitas umum.
Padahal, solusinya tidaklah rumit jika ada komunikasi dan ketegasan. Warga berharap para nelayan bisa merakit bambu-bambu tersebut di area bawah atau langsung membawanya ke laut, alih-alih menjadikannya "pajangan" permanen di jalanan. Di sisi lain, pengawasan keamanan malam hari perlu ditingkatkan agar fasilitas umum seperti konblok jalan tidak terus-menerus digerogoti pencuri.
"Kawasan ini punya potensi jadi tempat wisata lokal yang bagus kalau dirawat. Tapi kalau dibiarkan begini terus, ya hancur," pungkas Joni nada pasrah.
Kini, bola panas ada di tangan aparat kelurahan dan pengurus RT/RW setempat. Sayangnya hingga berita ini ditulis belum ada pihak -pihak terkait yang mau atau berhasil dikonfienasi terkait hal tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....